Esai-esai Nano

Februari 8, 2013

Semar dan Sengkuni

Semar dan Sengkuni

Kisah Mahabharata akhir-akhir ini menjadi perbincangan lagi. Kisah kuno yang aslinya berasal dari India (produk globalisasi pada zamannya) tapi diadaptasi dan populer di pulau Jawa (budaya Sunda dan Jawa) itu menariknya populer lagi gara-gara produk modern: SMS dan BBM (Blackberry Messenger).
Adalah seorang Ketua Umum Partai berkuasa di negeri ini yang konon memasang status di BBM-nya tentang “Politik Para Sengkuni”. Patih Sengkuni adalah figur yang cukup terkenal di jagad pewayangan, setidaknya terkenal karena liciknya. O ya, seandainya Clifford Geertz masih bisa merevisi teorinya tentang “The Religion of Java”, pasti dia akan melakukannya, karena Ketua Umum yang kita bicarakan ini adalah mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam yang tentu masuk kategori “Santri” dalam kategori Geertz, bukan “Abangan”. Tentu Geertz keliru kan?
Tetapi Nusantara punya adaptasi luar biasa. Di Mahabharata versi Sunda dan Jawa ada Semar dan anak-anaknya: Garong, Petruk, dan Bagong. Mereka kelihatan hanya sebagai penggembira dan penampakan fisik yang tidak menguntungkan, akan tetapi Semar ini ternyata adalah pamong para ksatria Pandawa selain Kresna. Padahal di versi asli Mahabharata hanya ada Kresna (mewakili para dewa) yang menjadi penasehat para ksatria.
Ada yang bilang Semar ini disusupkan dan digunakan oleh salah satu Walisanga yaitu Sunan Kalijaga, walaupun Prof. Slamet Mulyana juga berpendapat bahwa Semar sudah muncul pada era Majapahit. Tapi yang jelas Semar ini adalah hasil karya para pujangga Nusantara, untuk merepresentasikan kekuatan rakyat. Janganlah para ksatria mengabaikan rakyat jelata yang hadir dalam bentuk punakawan, tanpa mereka para ksatria tidak akan ada artinya.
Jadi, ketika para elit hanya mempermasalahkan Sengkuni, kita jangan lupa akan adanya kekuatan rakyat, sang Semar yang jelek tetapi sakti.

Iklan

Februari 6, 2013

Pipihkan Kotak Bekas Minum Anda

Filed under: Daily Life,Pernik — estananto @ 6:53 am
Tags: , ,

Pipihkan Kotak Bekas Minum Anda

Gaya hidup modern menjadikan produk-produk yang praktis menjadi populer di pasaran. Kalau dulu biasanya kita membawa termos dari rumah untuk bekal minum, kini kita cukup membawa kotak berisi minuman yang dapat dibeli di mana saja.
Dulu Teh Kotak sangat terkenal sebagai satu-satunya minuman (teh) yang dikemas di dalam kotak kecil dan diminum lewat sedotan yang dicoblos di pojok atas. Kini bukan hanya teh, dari susu, kopi, hingga kacang hijau dikemas dalam kotak.
Tapi ngomong-ngomong, setelah minuman habis, bagaimana cara anda membuangnya? Di Indonesia biasanya kotak kosong dibuang begitu saja. Padahal best practice-nya di negara maju adalah menekan kotak kosong itu hingga pipih. Untuk apa?
Sekarang, anda membuang kotak anda di tempat sampah. Nanti sampah berisi kotak itu sampai di tempat pembuangan, lalu diangkut oleh petugas kebersihan. Terus demikian hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Nah, kotak yang tidak dilipat tetap berisi udara sampai sana dan memakan volume. Kalau kita bandingkan antara kotak yang dibiarkan tanpa dipipihkan dan kotak yang sudah dipipihkan kira-kira 30 cm3 (perhitungan kasar), maka kalau di TPA itu ada satu juta kotak, maka kotak-kotak itu saja akan memakan 30 m3 tempat. Jadi kalau anda memipihkan kotak, anda ikut menghemat tempat di TPA yang selalu menggunung itu.

Mari kita berkontribusi dari urusan kecil-kecil…

Februari 3, 2013

Jauhi kantong plastik!

Filed under: Daily Life,Pernik — estananto @ 11:46 am
Tags: , ,

Jauhi kantong plastik!

Di Indonesia kita sudah akrab dengan kantong plastik, apakah itu di warung, toko kecil, supermarket, sampai hipermarket. Memang kantong plastik atau dikenal dengan kresek sangat praktis dan murah.
Akan tetapi, sekali mereka tidak kita butuhkan lagi, mereka jadi masalah di tempat sampah. Bahan-bahan plastik tidak mudah terurai oleh mikroba, perlu waktu yang sangat lama untuk menguraikan plastik. Mereka harus dimusnahkan, bisa dengan dihancurkan atau dibakar. Kalau dibakar, plastik juga menghasilkan polusi udara.
Nah, mengapa tidak coba kantong kain? Sekarang istri saya pun selalu membawa kantong kain setiap berbelanja. Repot pada awal mulanya, tetapi kalau sudah terbiasa mungkin tidak masalah. Masalah terbesar hanyalah kalau lupa membawanya kalau akan berbelanja.
Kita mulai menyelamatkan lingkungan dari yang kecil-kecil.

Januari 28, 2013

“Get things done”: easier than said.

Filed under: Daily Life,Pernik — estananto @ 2:54 pm

Saya perlu waktu 30 tahun untuk memahami arti “get things done”. Untuk menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai. Untuk berjuang mati-matian hingga sesuatu benar-benar selesai. 

“Get things done” berarti tidak lagi ragu-ragu dan akhirnya malah menunda pekerjaan. Jika menemui suatu masalah, kerjakanlah apa yang dapat dilakukan dan jika tidak juga dapat dilakukan, buat improvisasi. Ketika saya melihat sekitar, terutama mereka yang telah menghasilkan karya, mereka bukanlah orang “sempurna”, tetapi orang yang dengan cerdik memanfaatkan apa yang ada. Kesempurnaan memang hanya milik Tuhan.

November 1, 2012

Investasi dan Risiko

Filed under: Daily Life,Indonesia,Pernik — estananto @ 2:27 pm
Tags: , , , ,

Image

Motivator yang banyak bermunculan sekarang biasanya meyakinkan kita bahwa gaji dan kenaikan pegawai tidak akan mengimbangi laju inflasi per tahun. Seorang perencana keuangan dalam bukunya malah menyebut angka fantastis yang disebutnya “inflasi pendidikan”: 20% per tahun. Ini mah tidak mungkin terkejar dengan kenaikan gaji, katanya. Maka saran mereka biasanya kalau tidak bikin usaha ya reksadana.

Tunggu dulu. Ada satu hal penting yang tampaknya enggan mereka ulas di sini. Memang kalau hal ini di awal sudah dibahas, tentu keseluruhan ide akan mentah di awal. Hal penting di sini adalah RISIKO. Di dunia ini kata orang Inggris “there is no such thing like free lunch”. Kalau anda ingin dapat keuntungan lebih, biasanya risikonya juga lebih tinggi. Tidak ada di dunia ini anda dapat menaruh uang anda dan “menyuruh”nya bekerja buat anda seperti kata Robert Kiyosaki. Bahkan investor macam Warren Buffet pun tanpa istirahat menganalisa di mana tempat dia bisa investasi, tentu – sekali lagi – bukan tanpa risiko.

Kembali ke investasi: karena risiko akan selalu ada jika anda berinvestasi, maka anda harus cermat di sana, tapi juga jangan setengah-setengah. Jika masih ragu-ragu ya tidak usah investasi, tapi risikonya juga rendah, yaitu ada kemungkinan akan kalah oleh inflasi. Bagaimana dengan reksadana? Reksadana yang berisiko rendah seperti reksadana terproteksi, biasanya perkembangannya pun lambat, sama atau bahkan di bawah deposito. Bagaimana dengan emas? Atau tanah kosong? Ya, tetapi tetap saja tidak ada jaminan anda akan dapat high gain. Emas pun tidak selalu naik nilainya seperti yang dibilang banyak propagandis uang emas, ada kalanya dia turun karena masih memenuhi hukum permintaan dan penawaran. Bagaimana dengan tanah? Tergantung lokasi. Sebagai contoh: dulu di masa pemerintahan Suharto ada wacana ibukota akan dipindah ke Jonggol. Maka ramailah orang membeli tanah di sana. Ketika Suharto lengser keprabon dan rencana pemindahan ibukota ini sudah dilupakan, harga tanah hanya naik sedikit, tidak seperti yang diperkirakan. Itulah risiko.

Jadi, saya juga baru mendapat pelajaran bahwa ungkapan “jer basuki mawa beya”: setiap keberhasilan perlu pengorbanan. Itulah risiko. 

Entrepreneurship (tidak mudah)

Filed under: Daily Life,Pernik — estananto @ 1:37 pm

Kalau ada yang beranggapan menjadi entrepreneur adalah alternatif lain jadi orang gajian, itu tidak sepenuhnya tepat. Menjadi entrepreneur adalah mengambil porsi risiko lebih besar seiring dengan kebebasan yang kita dapatkan.

Padepokan Budi Rahardjo

Baru saja saya selesai berdiskusi – via Skype – dengan seorang kawan di Amerika. Ini merupakan follow up dari diskusi-diskusi sebelumnya yang kami lakukan secara fisik di Bandung dan juga melalui media online. Kami sama-sama berniat mengembangkan startups di Indonesia.

Masalah yang sedang dia hadapi adalah legal structure di Amerika sana, yang mana saya tidak terlalu faham. Ada kesulitan-kesulitan yang menghalangi melakukan investasi secara institusi. Saya kurang familier saat ini dan kami akan terus mendiskusikannya. Sementara ini saya memang lebih tertarik kepada aspek teknis, engineering, dan pengembangan produk. Mungkin nantinya memang aspek legal ini harus dihadapi juga.

Menjadi entrepreneur memang tidak mudah. Hei, ini adalah pola hidup (lifestyle) yang kita pilih. Semua ada pro dan kontranya. I just love being an entrepreneur.

Lihat pos aslinya

Oktober 31, 2012

Umang-umang

Filed under: Daily Life,Indonesia,Pernik — estananto @ 1:06 am

Umang-umang

Ini foto sebulan lalu. Adam minta umang-umang dan dibelikan oleh ibunya, karena anak tetanggapun main umang-umang. Saya jadi ingat, 30 tahun yang lalu pun saya main umang-umang, tetapi tidak dicat seperti ini! Inikah yang namanya inovasi? 🙂

November 19, 2011

Matematika sedekah?

Filed under: Indonesia,Pernik — estananto @ 11:28 am
Tags:

Suatu waktu, seorang sahabat dekat mengirimkan message lewat Blackberry. Intinya adalah nasihat seorang ustadz – sebut saja inisialnya YM – bahwa sedekah punya “matematika”nya sendiri. Sang ustadz mengatakan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa satu sedekah akan dibalas oleh Allah dengan 10 kali lipat – dan itu berlaku secara material. Misalnya jika anda hari ini bersedekah Rp. 100.000, maka insya Allah 10 kali Rp. 100.000 atau Rp. 1.000.000 akan datang kepada anda, tentu saja di waktu yang belum dapat diperkirakan.

Image

Well, saya bukan ahli agama. Tetapi dari guru-guru agama saya, didapat kisah yang agak berbeda. Sahabat-sahabat Nabi itu ada yang kaya raya. Sayidina Abu Bakar dan Utsman bin Affan itu kaya, dan mereka terkenal menginfakkan dan mensedekahkan hartanya dalam jumlah banyak. Tetapi belum pernah dalam kisah-kisah didapat bahwa mereka mengamalkan “matematika sedekah satu dapat sepuluh” itu. Hilang secara material secara sedekah ya hilang saja. Tidak dihitung-hitung di awal.

Demikian juga kisah para Wali di Nusantara. Saya kira tidak ada satu kitab pun yang mengajarkan “matematika” seperti yang tertulis di atas”. Kalau ustadz YM memang mengatakan telah terjadi demikian, ya alhamdulillah. Tetapi saya memilih main aman saja. Kalau mau sedekah, ya sedekah saja, tidak perlu di depan menghitung ganjarannya. Karena Gusti Allah itu ya sesuka-Nya memberi ganjaran. Mudah-mudahan anda dan saya tetap menerimanya ya! Amin!

April 18, 2005

My ST’s final project

Filed under: Indonesia,Pernik — estananto @ 12:13 pm

To my surprise, I can find my final project in ITB with Google! Just click here. I think it should be very apreciated that a university in Indonesia is able to make good documentation online!

Februari 16, 2005

Menyongsong TV via kabel telepon

Filed under: IC design,Indonesia,Pernik — estananto @ 5:16 pm

dimuat di harian Bisnis Indonesia
dan PT Telekomunikasi Indonesia

Teknologi Informasi
Rabu, 16/02/2005

Kabel tembaga sebagai koneksi kecepatan tinggi
Menyongsong TV via kabel telepon

Setelah TV satelit dan TV kabel, kini datang lagi teknologi terbaru televisi: televisi lewat kabel telepon. Ternyata, kabel telepon yang sudah ada pun bisa dimanfaatkan sebagai saluran TV kabel tanpa harus memasang kabel tambahan. Dengan melanjutkan teknologi ADSL (asymmetric digital subscriber line) yang kini menjadi andalan sambungan Internet cepat via kabel tembaga, Microsoft memperkenalkan xDSL-TV, atau juga TV over DSL. Nama resminya IPTV (Internet protocol television).
Adalah Microsoft, perusahaan software pembuat sistem operasi Windows, yang bersama Bluewin telah melakukan test IPTV. Bluewin sendiri adalah anak perusahaan Swisscom, perusahaan telekomunikasi Swiss. Teknologi ini selain di Swiss juga telah diujicobakan di Austria, Perancis, Hong Kong, Inggris, Taiwan, atau Monako. Divisi Microsoft-TV pertama kali memperkenalkan prototipnya di pameran International Telecommunication Union 2003 di Genewa.
Dengan IPTV, dapat disalurkan dari TV gratis hingga pay-TV, juga video-on-demand.
Dengan demikian, berbagai macam fasilitas dapat dimungkinkan untuk dinikmati konsumen: program yang dapat dipilih, navigasi yang lebih baik meliputi daftar gabungan siaran dan on-demand content, penggantian saluran yang lebih cepat dari TV digital yang ada sekarang, hingga perekaman beberapa program acara di hard disk secara paralel.
Microsoft juga menjanjikan keterhubungan yang baik antar peranti karena pertukaran berbagai macam bentuk informasi seperti foto, video, dan musik.
Konsumen bahkan dapat diberitahu segera apabila ada perubahan jadwal TV lewat e-mail atau SMS. Dengan teknologi picture-in-picture pelanggan dapat melihat dua program sekaligus tanpa mengganti lagi.
Rahasia teknologi ini adalah pada teknik kompresi baru, Windows Media 9, yang melampaui teknik-teknik kompresi yang sudah ada. Windows Media 9 lebih baik tiga kali lipat dari MPEG-2 dan dua kali lipat dari MPEG-4. MPEG-2 adalah standar Amerika yang telah diterapkan secara luas sebagai standar kompresi DVD, sedangkan MPEG-4 adalah standar Eropa berdasarkan ITU H.264. Sumber program TV atau video tidak harus satu melainkan bisa banyak jumlahnya melalui sebuah jaringan pita lebar (broadband).
Konsumen harus memiliki set-top-box (STB) yang dijalankan oleh Windows CE.NET 5.0 dan cukup memiliki prosesor Intel Pentium III (933 Mhz) dan chip grafik Intel 830M4.
Menurut majalah computer technik (c’t) edisi kedua tahun 2005, kecepatan transmisi dari uji coba Bluewin dan Microsoft ini baru mencapai 1,5 Mbit per detik yang mendekati kualitas DVD.
Walaupun masih terjadi bahwa gambar menjadi kabur ketika gerakan cepat seperti olahraga disalurkan dalam TV, tapi masih banyak peluang yang ada di masa datang.
Penyebab cacat ini masih belum jelas, apakah terletak di teknik kompresi atau lebar pita yang belum cukup.
Di masa datang, transmisi yang lebih cepat seperti ADSL2plus (dengan kemampuan 20 Mbit per detik downstream dan 1 Mbit per detik upstream) atau VDSL (very high speed digital subscriber line) yang berkecepatan sampai 52 Mbit per detik untuk downstream maupun upstream, memberi kemungkinan bagi teknologi IPTV yang lebih baik lagi.

Kabel telepon biasa
DSL sendiri sebenarnya adalah revolusi besar yang berkaitan dengan pemanfaatan sistem kabel telepon konvensional yang dikenal dengan nama public switched telephone network (PSTN).
PSTN adalah sistem telepon menggunakan kabel tembaga mentransmisikan sinyal analog.
Transmisi PSTN dibatasi hingga 3.400 Hz sehingga spektrum frekuensi yang bisa disalurkan lewat PSTN adalah antara 0 dan 3.400 Hz.
Frekuensi maksimal ini setara dengan 56 kbps, dan memang inilah kecepatan tertinggi akses internet non-DSL menggunakan kabel tembaga.
Dalam praktiknya, 56 kbps ini adalah benar-benar kecepatan maksimum, artinya jarang sekali terjadi, diakibatkan ketidaksempurnaan transmisi.
DSL disalurkan dengan merombak batas ini sama sekali. DSL menggunakan frekuensi di atas 3.400 Hz, bisa dalam bilangan puluhan ribu Hz.
Frekuensi yang tinggi mengakibatkan energi yang dihabiskan untuk menyalurkan di dalam kabel juga semakin banyak sehingga mengandung risiko terjadinya atenuasi, lebih besar daripada yang terjadi di frekuensi rendah.
Besarnya energi ini juga mengakibatkan risiko lain yang dinamakan crosstalk, yaitu terpengaruhnya sinyal dalam satu kabel oleh kabel lain yang berdekatan.
Kabel-kabel tembaga untuk sambungan telepon biasanya dibundel dalam satu selubung dan ini memperbesar resiko crosstalk.
Sinyal bisa berubah dari sinyal asli dan ini tentu merugikan.
Kabel telepon itu bisa diandaikan terdiri dari dua ujung. Ujung yang satu ada di pelanggan, dan ujung kedua ada di sentral (CO, Central Office).
Tentu saja semakin dekat ke sentral, semakin banyak kabel yang terbundel, ini mengakibatkan risiko makin tinggi akan terjadinya crosstalk.
Maka untuk mengurangi risiko ini, dipergunakan frekuensi rendah untuk sinyal yang mengalir ke arah sentral dan sebaliknya frekuensi tinggi untuk sinyal yang mengalir ke pelanggan. Inilah prinsip ADSL (asymmetric digital subscriber line).
Dinamakan asimetris karena memang aliran data yang “turun” ke pelanggan (downstream) tidak sama dengan yang “naik” ke sentral (upstream). Biasanya, beda itu sangat besar, misalnya downstream 768 kbps dan upstream 128 kbps.
ADSL & home office
Di Indonesia, PT Telkom telah meluncurkan produk DSL berkecepatan downstream 512 kbps dan upstream 64kbps.
Tentu saja ini seharusnya baru awal, karena (A)DSL memungkinkan kecepatan lebih tinggi lagi, misalnya 3 Megabit per detik (atau 3.000 kbps).
Namun karena pengguna di Indonesia masih sedikit, maka produk ini hanya dapat dinikmati dengan harga relatif mahal.
Untuk layanan Speedy Heavy Metal pelanggan dikenakan biaya Rp.800.000 per bulan dan batasan download sebesar 2 GB. Ini masih lebih mahal daripada layanan Telekom Jerman yang mematok harga sekitar Rp340.000 per bulan untuk volume yang sama.
Namun demikian, prospek ADSL di Indonesia tampaknya akan makin dipicu oleh kemajuan teknologi DSL hingga ke IPTV yang dibahas di atas.
Walaupun penerapan teknologi semacam IPTV di Indonesia tampaknya baru akan diujicobakan ketika pita lebar sudah makin layak pasar, tidak tertutup kemungkinan untuk membuat peluang baru seperti konsep home office.
Home office sangat penting artinya di kota metropolitan seperti Jakarta Raya. Dengan tingkat kemacetan yang tinggi akibat pertambahan kendaraan 350 roda empat setiap hari dan panjang jalan yang hanya 5.000 km, perlu dipikirkan mode lain cara bekerja.
Dengan demikian tumpukan kendaraan di pagi dan sore hari yang menghabiskan energi dan waktu bisa dihemat.
Jika kira-kira seorang karyawan bisa melakukan dua jam kerja di rumah pada saat-saat sibuk lewat jaringan pita lebar berkecepatan 1.000 kbps, dalam waktu satu bulan bisa diselamatkan sampai 40 jam kerja. Belum lagi jika kita menghitung efek polusi udara.
Bagi karyawan perempuan yang mempunyai anak kecil di rumah, teknologi pita lebar akan mampu menolong mendamaikan antara tuntutan naluriah seorang ibu dan tuntutan profesi.
Di Jerman, konsep Heimarbeit ini telah dilakukan di beberapa perusahaan yang juga mempekerjakan para ibu.
Namun tentu saja konsep home office ini membutuhkan proses pembudayaan yang harus dimulai sejak dini. Ini berkaitan dengan pemenuhan target sekaligus konsep kerja mandiri.
Pita lebar dapat menjadi peluang sekaligus peningkat efisiensi kerja di kota besar.

Oleh Estananto Alumnus Teknik Fisika ITB, tinggal di Jerman

© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved. Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.