Esai-esai Nano

Februari 11, 2013

Ketimpangan dan Inovasi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang “mengesankan” sebesar 6,3% tahun 2012 dibarengi dengan berita kurang menggembirakan. Selain defisit neraca perdagangan yang untuk pertama kalinya terjadi dan mencapai 1,6 milyar dollar AS, juga angka rasio gini Indonesia naik menjadi 0,41 dari 0,32 (2005). Apa artinya?

Rasio gini menggambarkan tingkat ketimpangan yang terjadi di suatu daerah/negara. 0 (nol) berarti “sama sempurna”, 1 (satu) berarti “timpang sempurna”, atau seluruh kekayaan ada di satu orang. Makin naik angka rasio gini, berarti ketimpangan makin besar.

Nah, dengan pertumbuhan lebih dari 6% itu ternyata kualitas pertumbuhan dilihat dari sisi keadilan sosial justru tidak seiring dengan pertumbuhan itu sendiri. Menurut Warta Ekonomi edisi 01/2013 yang mengutip majalah Forbes, kekayaan 40 orang kaya Indonesia adalah 88,7 milyar dollar AS atau Rp. 841 trilyun jika memakai kurs 1 dollar AS = Rp. 9500. Itu setara dengan penerimaan pajak negara Indonesia dalam APBN-P 2011, dan juga setara dengan akumulasi kekayaan 77 juta orang Indonesia 2011.

Angka rasio gini 0,41 ini adalah tertinggi selama sejarah Republik ini berdiri. Terjadi pemusatan kekayaan di sejumlah orang kaya. Tentu saja masalahnya adalah sejauh mana mereka yang tidak masuk golongan orang kaya ini tidak mampu bersaing dengan kelompok orang kaya yang berhasil menumpuk kekayaan dengan sangat berlebihan. Bisa jadi karena kekuasaan, atau kekurangan kepemilikan lahan, atau ketidakmampuan bersaing.

Ketidakmampuan bersaing ini menjadi masalah besar karena akan menjadi mata rantai penindasan baru dalam bentuk ketidakmampuan berproduksi. Sejatinya “menghasilkan produk” berarti “membuat produk yang mampu bersaing dengan produk lainnya” dan siapa yang memproduksi harus mampu selalu berinovasi agar produknya mampu bersaing di pasar. Inovasi ini harus selalu digalakkan oleh pemerintah pusat/pemerintah daerah, dalam bentuk pendidikan berkualitas, sarana-sarana penelitian dan pengembangan, dan juga iklim usaha yang memungkinkan. Hanya dengan cara itu, inovasi dapat meningkatkan daya saing dan mengurangi ketimpangan.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: