Esai-esai Nano

Februari 10, 2013

Masih Tenaga Kerja Murah dan Isu Produktivitas

Masih Tenaga Kerja Murah dan Isu Produktivitas

Lihatlah iklan ini. Iklan ini diambil dari sebuah surat kabar terkemuka di Amerika tahun 1969. Intinya pemerintah Republik Indonesia menawarkan kemudahan investasi dan betapa menguntungkannya berinvestasi di Indonesia bagi investor Amerika. Salah satu “keuntungan”nya: upah tenaga kerja murah.

Ini menjadi relevan untuk dilihat kembali karena akhir-akhir ini banyak demo berkaitan dengan UMR (Upah Minimum Regional) dan UMP (Upah Minimum Provinsi). Juga yang menjadi masalah adalah soal alih daya (outsourcing) dan penerapan jaminan sosial.

Menurut The Global Competitiveness Index yang diterbitkan WEF, “competitiveness” Indonesia dibanding negara-negara lain ada di ranking 50 dari 144 dan perkembangannya masih di “efficiency driven”. Artinya perkembangan ekonomi Indonesia masih dihela lebih oleh efisiensi daripada oleh inovasi yang merupakan tingkatan berikutnya. Sementara itu untuk infrastruktur ranking kita ada di 78 dari 144, untuk pendidikan dan pelatihan tinggi ada di 73 dari 144, dan untuk efisiensi pasar tenaga kerja ada di 120 dari 144. Ini memprihatinkan.

Barangkali ada baiknya kita lanjutkan membaca laporan WEF ini (semuanya untuk tahun 2012-2013): faktor-faktor yang paling bermasalah untuk bisnis adalah berturut-turut dari yang paling berat: birokrasi tidak efisien, korupsi, infrastruktur, etika kerja.

Tentu saja ada hubungan erat antara tingkat upah, produktivitas tenaga kerja, dan “competitiveness” Indonesia secara keseluruhan. Apalagi, menurut Investor Daily baru-baru ini kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB Indonesia 2012 makin menurun.

Ini tidak bisa dipecahkan secara sektoral. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders): pengusaha, buruh, pemerintah pusat, pemerintah daerah harus duduk bersama dan menyelesaikan masalah ini. Kita jelas tidak dapat terus menerus mengandalkan tenaga kerja murah sebagai comparative advantage sejak 1969!

Kita harus segera merumuskan strategi nasional untuk meninggalkan kebijakan tenaga kerja murah ini. Selain birokrasi dan infrastruktur, juga produktivitas tenaga kerja harus banyak diperbaiki.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: