Esai-esai Nano

Februari 5, 2013

Kapan Kereta Api Lintas Sumatera Dibangun?

Kapan Kereta Api Lintas Sumatera DIbangun?

Dalam acara Konferensi dan Pameran Infrastruktur Indonesia pada bulan Agustus 2012, Wamenhub mengatakan pemerintah pusat berencana akan membangun jalur rel kereta api lintas Sumatera dari Aceh hingga Bandar Lampung.
Panjang jalur rel tersebut adalah 2170 kilometer dan akan menghubungan Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Lampung. Jumlah lokomotif yang akan melayani jalur ini 145 unit dan jumlah gerbong kira-kira 1400 unit. Jumlah penumpang yang akan dilayani adalah 48 juta orang per tahun. Biaya yang diperlukan, menurut Wamenhub, adalah 63 trilyun rupiah.
Pertanyaannya adalah betulkah jalur ini akan dibangun dan kapan?
Barangkali kita harus sedikit cerewet untuk ini, karena bahkan Jalur Kereta Api Ganda di Pulau Jawa saja tidak selesai-selesai, katanya karena ada banyak masalah dengan pembebasan tanah. Tanpa dorongan yang kuat dari pemerintah pusat dan daerah, pembangunan infrastruktur besar seperti ini tidak akan terwujud.
Hal-hal yang perlu diusulkan adalah sebagai berikut:

Pertama, perlu ditekankan bahwa kereta api adalah angkutan publik dan massal. Ini berarti banyak orang yang dapat diangkut dan merupakan alternatif dari angkutan pribadi berupa mobil dan motor. Harusnya angkutan publik mendapat prioritas lebih.
Kedua, harusnya dibuat paket – kalau perlu berupa UU – yang menugaskan pemerintah segera membangun jalur kereta api Lintas Sumatera ini. Barulah kemudian terlihat berapa dana yang bisa dialihkan dari subsidi BBM yang terus membengkak itu ke infrastruktur seperti jalur kereta ini. Bukan terbalik, mengurangi subsidi dulu baru kemudian dipikirkan realokasinya.
Ketiga, dengan menghubungkan sentra-sentra ekonomi pertambangan, perkebunan, dan jasa, efek lipat gandanya akan segera terlihat. Misalnya Jeruk Medan yang tadinya perlu biaya banyak untuk mengangkutnya ke pasar di pulau Jawa akan lebih banyak terangkut dengan biaya murah. Sebaliknya Pelabuhan Sabang akan dapat diaktifkan dengan rel kereta api ini.
Sedemikian banyak manfaat kereta api ini, sebaiknya 145 lokomotif dan 1400 gerbong ini juga diproduksi oleh industri dalam negeri seperti PT. INKA. Jangan mengikuti jejak KRL Jakarta yang lebih memilih membeli gerbong bekas dari Jepang dengan alasan harga lebih murah. Memang harga satu buah gerbong bekas dari Jepang adalah 1 milyar rupiah, jauh di bawah harga satu gerbong baru produksi PT. INKA sebesar 8 milyar rupiah. Walaupun demikian produksi PT. INKA itu jelas lebih murah dari produk baru Jepang yang 10 milyar rupiah.
Pemerintah hendaknya berpikir bahwa dengan membeli gerbong ke industri dalam negeri, pajaknya mengalir ke Negara, lalu ada know how dan rekam jejak juga, selain membuka lapangan kerja. Seperti itulah seharusnya pemerintah berpikir.
Akhirnya, kita semua harus betul-betul mengingatkan betapa vitalnya jalur kereta api ini…

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: