Esai-esai Nano

Januari 30, 2013

Apa Kabar Konversi BBG?

Filed under: Indonesia — estananto @ 9:42 am
Tags: , , , , , ,

Apa Kabar Konversi BBG?

Rasanya belum setahun yang lalu, isu konversi BBG ini begitu membahana (“cetar membahana”, kalau menurut istilah Syahrini si lebay). Setelah dilantik pada November 2011 sebagai Wamen ESDM, almarhum Widjajono Partowidagdo sangat aktif mempromosikan konversi BBG, sampai-sampai mobil dinasnya sendiripun dipasang konverter BBG.
Konversi BBG sangat masuk akal dilakukan di Indonesia, mengingat Indonesia sebetulnya punya banyak gas alam (yang diekspor ke luar negeri dengan harga murah) tetapi sudah jadi pengimpor netto minyak bumi (termasuk premium bersubsidi). Artinya sebetulnya kita menjual sumber daya yang kita miliki dengan harga murah, dan membeli dari luar dengan harga mahal. Celaka.
Tapi dengan berpulangnya almarhum Widjajono tampaknya segala upaya konversi BBG sudah tidak semembahana dulu lagi. Program konversi BBG ini perlu dorongan kuat dari pemerintah, karena 1) SPBG (Stasiun Pengisan Bahan Bakar Gas) belum banyak sehingga masih harus digalakkan. 2) Harga konverter BBG bisa 10 juta rupiah per unit. Perlu ada model finansial. 3) Perlu ada sosialisasi intensif karena waktu pengisian BBG lebih lama daripada waktu pengisian premium/solar. 4. Perlu ada mekanisme agar BBG lebih menarik daripada BBM dari sisi finansial, misalnya disparitas kedua komoditi itu harus cukup tinggi.
Nah, sekarang subsidi BBM mencapai 170 triliun rupiah. Ada pro-kontra yang cukup sengit apakah harga premium/solar harus dinaikkan agar subsidi tersebut tidak terlalu tinggi. Namun ada 2 faktor yang kerap dilupakan dalam debat-debat itu: 1) analisa Prof. Widjajono bahwa seharusnya kita manfaatkan apa yang kita punya, yaitu gas, daripada tetap mengandalkan minyak yang kita impor. 2) pengaruh premium/solar terhadap biaya produksi. Premium/solar itu memegang peranan penting dalam jalur logistik. Di Indonesia biaya logistik mencapai 25% biaya produksi karena buruknya infrastruktur (bandingkan, angka ini hanya 15% di Malaysia dan 10% di Jepang), sehingga kenaikan harga yang tidak diantisipasi akan berpengaruh besar ke inflasi.
Pemerintah dan DPR harus segera membuat paket diversifikasi energi untuk mempercepat konversi BBG sebagai pengganti BBM ini. Dengan menaikkan harga BBM ke Rp. 6000 (kenaikan ini setara dengan 70 triliun rupiah dana subsidi) dan membuat rencana yang jelas untuk pengalihan dari subsidi BBM ke belanja konverter dan SPBG untuk menarik minat investor, pemerintah dan DPR akan menulis dengan tinta emas bahwa mereka membangun kerangka ketahanan energi negeri ini, bukan hanya rebutan jabatan di 2014…

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: