Esai-esai Nano

Agustus 17, 2010

17 Agustus, 65 tahun kemudian

Filed under: Indonesia — estananto @ 7:23 am

17 Agustus, 65 tahun kemudian.

Tidak ada lagi tentara Jepang membayang di depan rumah Sukarno. Tidak ada lagi perdebatan-perdebatan ideologis ketika pemuda menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Tidak ada lagi perhitungan tarik ulur dengan faksi-faksi perjuangan yang bertikai.

Tetapi sejarah mencatat bahwa selama 65 tahun bangsa ini mengalami pasang surutnya. Ketika kita mengambil sebuah keputusan strategis, itu haruslah dengan keputusan matang. Kini 100 juta rakyat hidup di bawah US$ 2 sehari. Kini pertumbuhan sektor industri hanya 3% dan gaji buruh Indonesia salah satu yang terendah di Asia, bahkan terhadap China dan Vietnam pun masih lebih rendah.  Deja vu ketika Sukarno mengatakan “een natie van koeli, een koeli onder de natie”? (satu bangsa kuli, dan kuli di antara bangsa-bangsa). Kota-kota Indonesia paling semrawut di dunia, ibukota Jakarta, kota kebanggaan negara hanya punya jalan seluas 6% tetapi jumlah kendaraan 9 juta buah dan terus tumbuh tak terkendali.  Saudara, setiap hari di Jakarta bertambah sepeda motor tidak kurang dari 890 unit. Setiap hari. Tetapi mobil dan motor itu hanya sedikit yang mempekerjakan buruh Indonesia.

Kita ini bangsa konsumtif, dan bangga mengkonsumsi produksi bangsa-bangsa lain. Lihatlah 70% pasar tekstil kita dikuasai produk China. Lebih murah, katanya. Betul, itu hukum ekonomi. Saya sendiri pelaku ekonomi yang selalu menghitung cost. Dan bukan urusannya pelaku ekonomi untuk melindungi industri, membuat kebijakan fiskal, dan mendidik para buruh agar kemampuannya lebih tinggi daripada buruh China dan Vietnam. Tapi di mana ada pemerintah ketika pabrik-pabrik tekstil tutup dan para buruh menganggur?

Dan buruh-buruh berdemo di jalan. Mereka menuntut upah lebih baik dan ditiadakannya outsourcing. Tetapi pengusaha menjawab: bagaimana usaha kami bisa jalan kalau margin kami habis untuk upeti ini itu, bagaimana usaha kami bisa efisien kalau infrastruktur tidak disediakan negara, dan bagaimana pula kami bisa bersaing dengan China kalau kalian para buruh kalah efisien dan tidak ada yang peduli itu? Dan pemerintah kita ternyata dibentuk dari para walikota, bupati, gubernur, anggota DPRD dan DPR yang  menghabiskan miliaran rupiah untuk kampanyenya. Silakan lihat pengakuan Menteri Dalam Negeri kita beberapa waktu yang lalu tentang biaya politik mahal.  Dan adakah yang bisa menjawab, dari mana mereka akan “balik modal” mengganti dana kampanye dan balas jasa kepada para donatur? (Maaf, saya tidak berbicara tentang dari mana dana kampanye Presiden berasal, nanti malah jadi bahan curhat pula). Ini bukan demokrasi yang mahal, tetapi demokrasi yang menyiksa. Sebuah festival yang membuat kita dipuji dunia tetapi membuat leher kita tercekek setiap hari. Mana pejuang demokrasi? Mengertikah kalian makna “penguasaan kapital”?

Dan al-Qur’an berkata: “Jangan sampai harta itu hanya beredar di antara kamu”.  “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”. Tetapi kita menyaksikan outlet Ferrari dan jaguar di jalan raya Jakarta tapi juga menyaksikan bagaimana busway yang diagungkan itu penuh sesak dan kurang bis sehingga malah membuat macet Jakarta. Pemerintah lumpuh oleh dirinya sendiri; saling tuding antara kontraktor dan pemda serta intrik-intrik kepentingan. Kita tentu tidak menafikan seseorang yang benar-benar kaya memiliki mobil yang bagus, tetapi mengapa yang lain tidak dapat menikmati angkutan umum yang baik, bersepeda di dalam kota, dan ruang publik yang baik?

Dan Jakarta bangga dengan  60 lebih mall yang ada di wilayahnya. Padahal di dalamnya manusia teralienasi dengan dirinya sendiri. Konsumsi adalah penghela ekonomi, dan bukankah manusia memang mahluk konsumsi? Betul, tetapi bukankah manusia perlu ruang untuk mengeksplorasi kemanusiaannya selain hanya pamer dan beli? Di warung kopi hal itu pernah ada. Dan di kota-kota besar dunia, mereka banggakan taman-taman luas dan perpustakaan serta museum yang ramai. tapi di sini saudara, Taman Ria Senayan pun akan dibangun menjadi mall. Menambah penghasilan daerah katanya. Seolah macet itu tak cukup dan kehidupan tidak melulu dihitung dengan uang yang kelihatan, tetapi uang yang tidak kelihatan. Ketika semua mendapatkan kesegarannya kembali dan mendapat ide-ide tak bernilai harganya dan mereka kembali menghela perekonomian.

Ke manakah perginya pemerataan bagi rakyat luar Jawa yang dulu diperdebatkan para pendiri bangsa hingga perang saudara? Raja-raja kecil yang berkuasa ketika mereka harus mengembalikan dana kampanye, ketika mereka hanya berpikir bagaimana caranya agar 5 tahun lagi dapat menjabat kembali. Euforia demokrasi hanya bermakna pesanan kaos dan bagi-bagi uang atau door prize motor. Dan 40% pemilih hanya melihat siapa yang membagi uang, hanya 5% yang perhatikan visi (sumber: survey sebuah Pilkada). Kalian masih heran mengapa kita makin tertinggal dan terinjak-injak bahkan di ASEAN?

Ah bendera Merah Putih. Berkibarlah di langit yang biru. Tetapi apalah artinya nasionalisme bendera yang berisik itu manakala dihadapkan kenyataan bahwa anak-anak kita harus bersaing dengan jutaan anak-anak lain yang siap bersaing dalam globalisasi? Kita semua, anak-anak Aceh, anak-anak Minang, anak-anak Melayu, anak-anak Lampung, anak-anak Betawi, anak-anak Sunda, anak-anak Jawa, anak-anak Dayak, anak-anak Minahasa, anak-anak Bugis, anak-anak Maluku, anak-anak Bali, anak-anak Nusa Tenggara, anak-anak Papua nanti akan berhadapan dengan anak-anak berpengetahuan dan berketerampilan tinggi. Bagaimana bisa?

Bisa.  Untuk itulah refleksi ini dibuat. Mari kita kembali ke tempat kita berkarya dengan tekad yang sama: Indonesia, suatu saat, tidak akan menjadi bangsa budak lagi. Tidak akan pernah. Merdeka!

Bandung, 17 Agustus 2010.

Iklan

5 Komentar »

  1. pidato presiden,gaji PNS naik lho,setiap tahun naik khn,gak ingin jadi pns?

    Komentar oleh karanetclub — Agustus 17, 2010 @ 7:34 am | Balas

  2. 17-08-1945 cuma salah satu milestone seperti 20-05-1908, 28-10-1928 dst., menuju kemerdekaan sesungguhnya. Tidak perlu 100%, tapi cukup di sektor penting seperti Pendidikan, Kesehatan, SDA, SDM, dan pengelolaan modal dan sumber modal.

    Jakarta sudah melewati titik kulminasi peradaban dan sekarang menuju arah kebiadaban. Disusul Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dst.. Langkah praktis yg mungkin memang memindahkan ibukota keluar Jawa.

    Komentar oleh Adie — Agustus 17, 2010 @ 7:58 pm | Balas

  3. dirgahayu republik indonesia…..

    Komentar oleh isdiyanto — Agustus 22, 2010 @ 10:10 pm | Balas

  4. sistem yang money politic yang menghancurkan negara kita.

    bekerja bukan untuk rakyat tetapi untuk uang. amanah ditinggalkan

    sedih untuk bangsa ini

    Komentar oleh teddy — November 14, 2010 @ 3:36 pm | Balas

  5. setuju sekali dengan post ini,
    Sepertinya buat kebayakan rakyat Indonesia nasib gak beda jauh dari masa penjajahan, cuma kini dijajah bangsa sendiri… cari makan susah, klo lagi sial berurusan ma hukum kaya inlander yg gak punya suara, gak bisa menikmati sarana n fasilitas umum… pemerintah ada bukan untuk melayani tapi untuk memmperkaya diri sendiri…:(
    masalah produk Cina sempet ngelontarin ide ‘protect our product’ minimal kita bisa bantu pengrajin-pengrajin sebangsa agar mereka punya penghasilan lebih baik..tetapi malah diketawain temen-temen..mereka bener-bener gak peduli n yg penting bisa dapet barang murah..walau akhirnya kebanyakan cuma jadi ‘sampah’. dan saya sendiri harus diakui gak cukup militan nentang produk cina ini, karena klo beli kadang gak tahu juga ni produk mana..
    kesimpulannya??? so much for talking about nasionalisme this day…O_o

    Komentar oleh siskanings — November 29, 2010 @ 3:19 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: