Esai-esai Nano

Oktober 21, 2009

Pidato Imajiner Pelantikan Presiden Republik Imajiner 2009 (1)

Filed under: Uncategorized — estananto @ 1:29 pm

TSalam Merdeka kepada Rakyat Republik Imajiner dari Sadang sampai Meraume!
Salam hormat saya kepada Yang Mulia Kepala-Kepala Negara dan Utusan-Utusan dari Negara Sahabat,
Yang terhormat Pimpinan dan Anggota Lembaga Tinggi Negara,

Alhamdulillah, kita semua telah menyelesaikan satu tahapan dalam perjalanan bangsa kita. Sebuah tahapan yang dapat dikatakan sangat crucial untuk kehidupan bangsa kita. Sebuah tahapan yang telah memakan biaya dan konsentrasi yang tidak sedikit, namun kita perlukan untuk sebuah legitimasi pemerintahan.

UUD kita mengamanatkan sebuah pemerintah yang melindungi segenap bangsa Imajiner dan seluruh tumpah darah Imajiner; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut serta melaksanakan perdamaian dunia. Untuk itu, saudara-saudara, kita berada di sini.

Pelantikan saudara Prof. Dr. B sebagai wakil presiden dan saya sebagai presiden mengandung makna sebuah amanat rakyat, sebuah amanat penderitaan rakyat. Kita harus mengakui bahwa kita saat ini masih terkebelakang dalam indeks sumber daya manusia, juga dalam hal kemiskinan di mana ada 120 juta rakyat Imajiner yang berpenghasilan di bawah USD 2 dalam sehari. Kita mengakui tanpa tedeng aling-aling, bahwa jarak antara amanat UUD kita dan keadaan kita saat ini amat jauh. Kualitas integritas dan kehidupan bangsa ini pun masih memprihatinkan. Di tahun 1990-an angka kebocoran ilegal APBN kita disinyalir 30 persen dari keseluruhan nilainya. Akibatnya kemampuan negara untuk menyediakan infrastruktur yang layak bagi rakyatnya sangat rendah. Ya, di samping keberhasilan demi keberhasilan yang kita capai selama ini, kita harus jujur dengan keadaan yang mengharuskan kita mengintrospeksi diri. Di.hadapan Tuhan dan seluruh rakyat Imajiner, kita haruslah jujur dan transparan.

Saudara-saudara yang terhormat,
Untuk itulah saya tekankan sekali lagi kerja berat kabinet dan seluruh birokrasi pemerintahan yang saya pimpin: kita harus terus mengefisienkan jalannya pemerintahan, mendorong dibentuknya Pengurusan Satu Atap (one stop centre) di kecamatan-kecamatan di seluruh Indonesia. Kita harus mendorong adanya budaya bebas calo; kita harus segera bergerak menuju terwujudnya transparansi pemerintahan. Suatu kejelasan bagaimana pemohon perizinan memperoleh pelayanan dengan benar. Teknologi Informasi memang penting, tetapi ingin saya tekankan: the man behind the gun adalah yang terpenting. Reformasi birokrasi kita menekankan perubahan dari pejabat menjadi pelayan rakyat, reformasi birokrasi kita bukan diartikan sebagai pembelian besar-besaran alat-alat TI yang canggih tanpa revolusi mental. Ya, pelayanan pemerintah adalah ujung tombak interaksi pemerintah dengan rakyat, adalah suatu interface bagaimana pemerintah melaksanakan pemberdayaan.

Saudara-saudara yang berani dan tidak mudah menyerah,
Lebih dari 50 persen rakyat kita yang miskin hidup dari pertanian. Sebagian besar rakyat di pedesaan kita – baik di pulau Jawa maupun Luar Jawa – hidup dari pertanian. Namun penghasilan mereka yang sedemikian kecil memaksa mereka pergi ke kota-kota dan menjadi buruh murah di sana. Ironisnya 1,5 juta ton kedelai atau 70 persen kebutuhan nasional kita diimpor. 77 persen kebutuhan susu nasional kita diimpor. Kemudian 600.000 ekor sapi atau 25 persen kebutuhan kita, juga diimpor. Lho, katanya negara pertanian! Lho katanya banyak petani dan peternak miskin! Lho, ternyata pasar kita sendiri pun tidak mampu dipenuhi petani sekian banyak! Aya naon iyeu, saudara-saudara sekalian?
Masalahnya adalah kita harus memutus rantai ketergantungan dan membiarkan petani mandiri di atas tanahnya. Masalahnya kita terlalu mendoktrin bahwa pupuk yang baik hanyalah pupuk buatan dan mengalahkan pupuk organik yang banyak terdapat di sekitarnya. Masalahnya adalah kita melupakan bahwa pengolahan hasil tani secara lokal, kemudian pengepakan dan distribusi yang sangat efisien, adalah kunci pemenuhan kebutuhan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani. Sudah saatnya pendapat bahwa desa menyangga kota kita tinggalkan sama sekali! Sebuah hubungan setara dalam konsep ekologis dan ramah lingkungan harus dengan cepat menggantikan slaah kaprah itu, saudara-saudara!

Iklan

2 Komentar »

  1. Bagus bung, kita harus membaca lagi perspektif petani yg makin ketinggalan dibanding glamour kota besar!
    La apalagi pekerjaan petani adalah tanpa tanda jasa kebanggaan, digantikan dengan lencana STPDN yg gagah bak karnaval anak2 dengan misi penghabisan dana APBN.
    kapan kita punya stiker, aku bangga anak petani??? bukan stiker gagah aku anak jendral??

    Komentar oleh ahmed shahi kusuma — Desember 10, 2009 @ 9:20 am | Balas

  2. Hello there.. Nice blog 🙂 salam kenal ya, lagi blogie walking neh sambil woro-woro Ada Lumpia 1000 Di Lawang Sewu

    Komentar oleh gambang semarang — Januari 7, 2010 @ 2:57 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: