Esai-esai Nano

Juni 30, 2009

Bingung Pilih Presiden

Filed under: Indonesia — estananto @ 3:35 pm

Bukan apa-apa, justru karena saya bukan ahli politik atau politikus maka saya makin bingung harus nyontreng yang mana nanti tanggal 8 Juli 2009.

Saya percaya pada mobilitas kelas dalam indikasi perubahan menuju kesejahteraan. Bukan dari angka statistik jumlah penduduk miskin, karena siapapun bisa main angka-angka.

Artinya tingkat kemakmuran bukan diukur dari berapa orang yang ada di bawah dan di atas garis kemiskinan, tapi seberapa banyak orang yang pindah kelas menuju lebih baik. Misalnya yang tadinya tukang sapu dengan daya beli yang sangat kurang lalu bisa membiayai lebih banyak untuk kehidupannya.  Yang tadinya sulit mengumpulkan uang untuk makan kini bisa membeli buku untuk sekolah anak sehingga peningkatan daya beli dapat meningkatkan daya analisa untuk memberi manfaat bagi yang lain. Tapi bagaimana “mengukur manfaat”  dan “perpindahan kelas”?

Tidak ada juga calon presiden yang menekankan kita akan merebut teknologi tinggi untuk memperbaiki kualitas produk-produk industri kita. Banyak orang yang alergi pada strategi Habibie yang dinilai hanya membebani anggaran negara. Tetapi menurut saya Habibie setengah benar. Walaupun ambisi “sejajar dengan bangsa lain” bagi saya harusnya bukan jadi prioritas, tetapi kualitas produk industri kita apakah itu industri agro atau industri tekstil sampai industri telematika dan alat angkutan, harus menjadi sasaran inovasi.

Kita sering dihadapkan anggapan keliru seperti pertanyaan semacam ini: “bangsa kita bisa nggak bikin X?”. Ini sangat keliru, karena kalau hanya membuat prototip sih itu hanya bicara soal awal dari suatu penciptaan produk. Ada proses manufaktur, ada proses quality control. ada proses marketing dan after sales service, semuanya menentukan kualitas produk dan inovasi produk yang tentu harus bisa dijual. Tidak cukup sampai situ, harus juga bisa menantang produk lain, apakah itu di dalam atau di luar negeri. Jadi teknologi tinggi penting untuk persaingan global, agar jangan jadi paria di negeri sendiri.

Ada konflik memang di antara prioritas padat modal dan padat karya. Tetapi di India dan China, mereka melakukan keduanya. Apa peran pemerintah di sini?

  • ada kebijakan yang jelas tentang pusat pertumbuhan yang melibatkan industri dan universitas.  Batam adalah contoh pusat pertumbuhan yang sayang sekali tidak mempunyai universitas. Bandung, Surabaya, Salatiga, Makassar dan daerah sekitarnya mungkin bisa dijadikan kandidat.
  • ada proses transparansi birokrasi yang sistematis sehingga waktu pengurusan perizinan makin cepat dan bersih. Bisa dimulai di daerah-daerah pusat pertumbuhan dengan menerapkan pilot project Single Identification Number dan integrasinya dengan data Depdagri dan Dirjen Pajak.
  • ada komitmen untuk memenuhi infrastruktur kebutuhan transportasi dan telekomunikasi. Yang dilematis memang dananya. Saya kurang tahu apakah memang pinjaman asing (dan kewajiban menggunakan kontraktor dari negara donor) adalah satu-satunya jalan. Kalau bisa sih dari obligasi dalam negeri.

Wah makin lama kok makin bingung ya, mudah-mudahan Indonesia diberikan yang terbaik oleh Yang Maha Kuasa.

Iklan

1 Komentar »

  1. Batam sudah ada universitas sejak tahun 2000, mohon diupdate lagi datanya..

    Komentar oleh Leo — April 26, 2011 @ 11:47 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: