Esai-esai Nano

Februari 4, 2007

Budaya dan Etika Kerja

Filed under: Indonesia — estananto @ 9:57 pm

Masalah budaya dan etika kerja telah menjadi bahan diskusi menarik selama bertahun-tahun. Dulu ketika Weber mengetengahkan “Etika Protestan”, sejak itulah para ahli memperdebatkan hubungan antara
budaya/kultur dengan kemajuan ekonomi.
Ada beberapa aspek yang menarik dari diskursus ini, yaitu seberapa jauh sebuah budaya mempengaruhi:

1) kerja keras 2) sikap terhadap waktu 3) kegiatan menabung 4) inovasi dan 5) kejujuran (Jones, 1997).

Tentu saja, kesemuanya mempengaruhi bagaimana seseorang memandang fungsi jaringan atau organisasi. Sebagai contoh jika kerja keras adalah satu nilai penting dalam suatu kultur, maka jaringan yang berhasil adalah
jaringan yang mampu menempatkan nilai ini dalam interaksi antar anggotanya.
Dalam kasus Asia dan Eropa, atau Asia dan Barat secara umum, perlu dilihat bahwa budaya Asia Timur pada khususnya sangat menekankan senioritas dan harmoni, sementara itu budaya Barat sangat menekankan
individu dan personal achievment. Dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi juga memiliki keperluan spesifik. Kultur Asia Timur memerlukan pemerintah yang kuat dan campur tangan birokrasi yang lebih banyak, sementara kultur Barat memerlukan jaminan kebebasan dari negara dan sistem sosial yang kuat untuk mengimbangi individualisme.
Indonesia terus terang kini ada di simpang jalan. Dia sudah tidak memiliki kultur Asia Timur murni karena dengan adanya demokrasi (liberal) pasca rezim Soeharto, nilai senioritas dan harmoni telah
ditantang. Tetapi di sisi lain, Indonesia juga bukan termasuk dalam wilayah kultur Barat karena tidak memiliki tradisi “konseptualisasi” untuk merumuskan visi dan misi (karena terbiasa dalam harmoni). Dalam
kondisi gamang seperti ini, pemerintah (eksekutif dan legislatif) maupun pihak-pihak berpengaruh harus mewujudkan budaya Indonesia yang progresif.
Diskursus tentang budaya Indonesia yang baru telah terjadi sejak tahun 1920-an, termasuk karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana yang pro-Barat dan di sisi lain Sanusi Pane ataupun Achdijat Kartamihardja yang lebih
konservatif. Polemik yang terjadi kini (seharusnya) mencapai titik puncaknya, karena menyangkut mati-hidupnya sebuah bangsa, atau lebih tepatnya hidup-matinya sebuah ide yaitu “Indonesia”.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, harus ada yang menghela dialog kultur ini agar membawa kemaslahatan bagi semua. Seandainya yang dituju adalah agar “jaringan bisnis yang terpercaya, terandalkan, dan
kreatif dapat terwujud”
maka semua elemen yang menunjang ini harus disuburkan.

Iklan

2 Komentar »

  1. Kang Nano, menarik sekali tulisan ini. Akan lebih menarik juga kalau dikaji pula pengaruh “agama” (pemahaman agama) dalam kultur budaya dan sikap masyarakat kita ini. Keep writing Kang 🙂

    Komentar oleh nilnaiqbal — Juli 25, 2007 @ 5:36 am | Balas

  2. makasih informasinya
    silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    Terdapat artikel yang menarik dan bermanfaat, Apabila berkenan tolong dikasih komentar
    Salam kenal dan Terima kasih

    Komentar oleh h0404055 — April 7, 2010 @ 4:48 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: