Esai-esai Nano

Januari 26, 2007

Harga Obat Indonesia Mahal

Filed under: Indonesia — estananto @ 8:35 pm

ObatBahkan, menurut link ini, harga obat di Indonesia bisa mencapai 12 kali harga internasional. Alasannya senada: komponen impornya masih banyak, dan untuk itu harga yang harus dibayar pasien (baca: konsumen) juga lebih besar.

Omset industri obat (modern) adalah Rp. 72 trilyun (2004), sebuah jumlah yang tidak sedikit. Kalau dikonversi ke dalam EUR adalah 7,2 miliar EUR. Padahal di Jerman omset industri obat hanya 3 kalinya, yaitu 23,7 miliar EUR, dengan catatan GDP per kapita Jerman adalah 30 kali lipat Indonesia. Kita membiarkan negeri kita membayar sedemikian besar, padahal industri jamu kita yang bahan bakunya hampir seluruhnya di dalam negeri, demikian juga seluruh proses litbang dan produksinya di dalam negeri, beromset hanya Rp. 2,7 trilyun (2004). Kita dianugerahi keanekaragaman hayati yang kaya, modal utama obat tradisional, tapi tidak tahu bagaimana cara mensyukurinya, Kita tidak punya standardisasi obat tradisional, dokter-dokter kita dididik untuk memberi resep dengan obat modern. Herankah jika harga obat sangat mahal di Indonesia?

4 Komentar »

  1. Hal lain yg menyebabkan obat di Indonesia begitu mahal :
    1. tidak adanya rule and policy mengenai batas atas harga obat. anda tau berapa margin yg bisa diambil di (mostly) apotek Indonesia ? hampir menyamai margin restoran/food industries !!

    2. Inefisiensi. sdh sangat terkenal kalo industri di Indonesia itu tidak efisien. mungkin karena pameo padat karya masih berlaku.

    Komentar oleh Agun Gunardi — Januari 31, 2007 @ 4:32 am | Balas

  2. salam kenal sebelumnya.. saya seorang ayah, seorang suami dan seorang dokter yang hanya berusaha menjadi orang baik… masalah obat di Indonesia.. sangat kompleks tidak bisa hanya melihat satu atau dua sisi yang harus di tangani… berkaitan dengan rendahnya cakupan asuransi kesehatan misalnya… kalo sebagian besar orang Indonesia sudah tercakup asuransi kesehatan.. yang protes pertama kali obat mahal adalah perusahaan asuransi kesehatan..
    kita bisa belajar dari India, banyak institusi kesehatan di sana yang produktif menghasilkan obat berkualitas dengan harga sangat murah.. bagaimana mereka bisa seperti itu? tidak didorong oleh pasar.. melainkan oleh misi non profit..
    di Indonesia yang sangat berpotensi seperti itu adalah jaringan PKU Muhammadiyah..punya ribuan jaringan PKU..(pasar yang besar) tetapi tidak dapat dimanfaatkan dengan bagus oleh Muhammadiyah.. ini sebuah peluang menghasilkan obat yang berkualitas tetapi harga murah.. bisa merontokkan aturan dalam farmasi saat ini… wallaahua’alam

    Komentar oleh Yusuf Alam Romadhon — Februari 5, 2007 @ 5:34 am | Balas

  3. salam kenal sebelumnya,

    berbagai masalah mengenai harga obat saat ini menjadi kendala di berbagai negara berkembang di dunia. saat ini saya masih mahasiswa farmasi ITB tingkat 3, akan tetapi berbagai politik dan perkembangan farmasi global sering saya dapatkan dalam berbagai kegiatan International Pharmaceutical Students Federation yang sering saya ikuti.

    berbagai negara berkembang, sebut saja China dan India saat ini berlomba-lomba untuk memproduksi obat secara masal, berkali-kali lipat dari perusahaan farmasi Eropa dan Amerika, dengan tujuan menekan harga produksi. akan tetapi sering kali di laporkan bahwa obat dari negara-negara ini tidak menghasilkan efek therapeutik yang sama dengan produk inovatornya, hal ini sering kali berbagai perusahaan tersebut mengabaikan uji bioekivalensi.

    mengenai harga obat di indonesia kenapa mahal?

    hal ini di sebabkan salah satunya karena bahan baku obat masih kita impor, walaupun kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi dalam produksi obat harus melalui 4 fase dahulu, dan ini menyebabkan research cost yang sangat besar, tentu saja PMA yang berada di Indonesia lebih baik bertindak sebagai distributor. sedangkan produsen obat di Indonesia menunggu berbagai Paten obat yang kadaluarsa untuk bisa di produksi.

    sebenarnya ada peluang bagi negara indonesia untuk mengembangkan dari sisi obat tradisional (fitofarmaka, jamu, dan obat herbal standar). akan tetapi sering kali obat tradisional ini di lirik sebelah mata oleh publik di Indonesia, padahal negara-negara maju sekarang mulai ‘back to nature’ dan mengembangkan pharmaceutical biotechnology

    Komentar oleh kalman — Februari 20, 2007 @ 2:38 am | Balas

  4. HET utk obat olandoz banyak dilanggar oleh apotik salah satunya apotik Roxy di depan terminal Bekasi. Siapa yg berwenang sweeping?

    Komentar oleh alex — Agustus 12, 2011 @ 9:59 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: