Esai-esai Nano

Desember 11, 2006

NEKAPIR

Filed under: Indonesia — estananto @ 11:13 pm

Menghadapi NEKAPIR

Di zaman sekarang ini tampaknya “globalisasi” menjadi kata kunci yang niscaya. Thomas Friedman, kolumnis New York Times,  menulis bahwa “Dunia itu Rata” dan memaparkan dengan gamblang bahwa globalisasi adalah “integrasi kapital, teknologi, dan informasi yang membuat satu pasar yang sangat global di seluruh dunia”.
Justru di sinilah masalahnya. Dengan WTO, slogan pasar bebas, mitos investasi asing, keadilan sosial akan mati pelan-pelan. RRC dan Vietnam, dua negara sosialis yang dipuji karena pertumbuhan ekonominya setelah membuka pasarnya telah mengabaikan rakyat terbawah masing-masing, demikian juga dengan India. Cina dan India yang dipuji dengan pertumbuhan GDP dan arus FDI yang luar biasa masing-masing memiliki 47 dan 80% penduduk yang hidup di bawah US$ 2 per hari. Di Cina kota pantai timur seperti Shanghai punya pendapatan US$ 4180 per kapita, tetapi makin ke Barat kemiskinan makin merata. Di India ada 60 juta anak kekurangan gizi, di saat investasi asing mengalir deras ke India dalam bentuk industri teknologi informasi. Pertumbuhan yang cepat belum diimbangi dengan pemerataan yang baik, struktur pendidikan yang masih timpang antara yang dihasilkan dan yang dibutuhkan, dan transformasi sektor pekerjaan dari agraris menjadi industri berakibat banyaknya agricultural workforces yang bertransformasi menjadi unskilled workers. Suatu hal yang juga terjadi di Indonesia.
Kekuatan NEKAPIR – Neo-Kapitalisme dan Hiperrealisme merupakan suatu tantangan baru bagi negara-negara berkembang. Bangsa-bangsa Eropa membutuhkan waktu hampir 300 tahun sejak revolusi industri hingga munculnya kekuatan-kekuatan negara bangsa, menghasilkan dua perang dunia yang intinya adalah perebutan sumber daya, sedangkan negara-negara berkembang bermimpi mengejar Eropa dengan membuka seluas mungkin investasi dari luar negeri. Para fungsionaris partai komunis Cina akan mendapat penghargaan jika mereka berhasil mengundang investasi luar. Indonesia di bawah Presiden SBY dan Wapres MJK tampaknya sedang berupaya melakukan hal yang sama, yaitu menjanjikan kemudahan bagi investor.
Kekuatan modal menjadi makin penting tanpa memperhatikan bahwa ekspansi modal dalam negeri tanpa pembenahan birokrasi dan kebijakan yang tepat terhadap kekuatan ekonomi asli bangsa akan berakibat ketergantungan yang luar biasa terhadap modal. Modal asing tidak harus dimusuhi, tapi manakala modal digunakan untuk mendikte kekuasaan negara yang lalu ujung-ujungnya hanya menjadikan rakyat negara sebagai penopang berjalannya mesin keuntungan yang ditanam oleh modal tersebut, tentunya rakyat yang akan menderita.
Kekuatan modal ditopang oleh kekuatan media, yang menciptakan apa yang disebut oleh Yusuf Amir Piliang sebagai “hiperrealitas”. Realitas bahkan mati ketika rakyat puas menyaksikan sinetron dan infotainment untuk mematikan realitas mereka sehari-hari. Persis dengan yang digambarkan Larry dan Andy Wachowski yang dalam film Matrix menggambarkan dunia sebagai “tidak real” karena tidak lain adalah program komputer yang dimasukkan ke dalam otak manusia, alat-alat hiperrealitas meraup untung dari keinginan manusia untuk lari dari realitas ini. Ketika kemudian mereka hidup dalam kemewahan mimpi, masuknya modal asing tidak akan mendapat kritik berarti, karena hanya dengan masuknya modal asing akan ada perubahan kehidupan yang signifikan. Walaupun itu hanya janji.
NEKAPIR – Neo-kapitalisme dan hiperrealisme yang harus diwaspadai, tidak dapat dijinakkan dengan jargon, akan tetapi program riil dan perencana untuk merubah keduanya dari threat menjadi opportunity. Kekuasaan negara yang digunakan harus bersifat non-rasial, bersih, dan memihak seluruh stake-holders negara. Secara ringkas saya menamakannya “Negara Kaki Lima Modern“. SBY harus membuktikan janjinya yang dituangkan dalam thesis doktor yang konon memihak kaum tani.
Sementara itu hiperrealitas harus dijinakkan dengan peraturan yang lebih ketat terhadap porsi hiburan yang membodohi rakyat dan menghalangi mereka dari realita mereka sehari-hari. Setidaknya 30% porsi siaran seluruh stasiun TV haruslah mengandung muatan pendidikan. Hiperralitas akan membuat rakyat terjebak dalam konsumerisme yang hanya menggenjot konsumsi sementara produksi tidak mampu bersaing dengan kompetitor di luar sehingga tetap hasilnya menguntungkan neo-kapitalis.
Hanya dengan strategi terpadu menghadang neo-kapitalis dan hiperralis, kita bisa memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan bangsa dan rakyat.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: