Esai-esai Nano

November 20, 2006

Mereaksi Pidato Paus

Filed under: Eropa,Indonesia — estananto @ 7:56 pm

Artikel di Harian Pikiran Rakyat, 2 Oktober 2006

Mereaksi Pidato Paus
Oleh ESTANANTO

Jauh sebelum kontroversi September 2006, bulan Agustus 2005 Paus Benediktus XVI yang baru saja naik tahta menerima 10 delegasi muslim Jerman dalam rangkaian acaranya di “Weldjugendtag” (Pertemuan Pemuda Katolik Sedunia) di Koeln (Cologne). Dalam audiensi itu Paus berpesan agar “menghilangkan kebencian dalam hati” dan “bekerja sama menghadapi teror berbasis agama”.

Sampai saat itu pernyataan tersebut masih merupakan misteri, karena dunia masih ingat betapa kerasnya usaha pendahulu beliau yaitu mendiang Paus Johannes Paulus II dalam mengadakan dialog antariman. Sedemikian hormatnya sebagian kaum muslimin terhadap Johannes Paulus II, Dalil Boubakeur ketua Dewan Islam Prancis menjelaskan, ketika Johannes Paulus II sakit keras bulan April 2005, bahwa muslim juga berdoa untuk kesembuhan Paus (Johannes Paulus II). Suatu harmoni yang sangat baru dalam sejarah tanpa Gereja Katolik sendiri kehilangan jati dirinya.

Setahun setelah Paus Benediktus XVI mengajak untuk “bekerja sama”, dalam orasi ilmiah di Universitas Regensburg beliau seolah memperjelas apa yang dimaksud dengan “kebencian” dan “teror berbasis agama”. Di univesitas ini, tahun 1959 silam beliau pernah menjadi dosen teologi. Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Glaube, Vernunft, und Universitaet” (Iman, Rasionalitas, dan Universitas) itu, tema sebenarnya adalah bagaimana kedudukan iman dan rasionalitas di dunia modern. Paus mengutip diskusi antara Kaisar Manuel II Paleologos dan “seorang terdidik berkebangsaan Persia” yang terjadi antara tahun 1394 dan 1402 ketika Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur terkepung.

Kutipan ini pun diambil dari kutipan buku karya Profesor Theodor Khoury dari kota Muenster. Kutipan ini bagi Paus dalam orasinya adalah “sangat menarik” sehingga diakui sendiri oleh beliau menjadi “titik awal” pemikirannya ketika berbicara tentang masalah iman dan rasionalitas. Untuk melihat apa yang sesungguhnya dikatakan Paus, penulis merujuk ke baik transkripsi asli orasi Paus dalam bahasa Jerman maupun juga terjemahan bahasa Inggris di situs resmi Tahta Suci Vatikan, http://www.vatican.va.

Manuel II menyinggung bahwa dalam Alquran, kitab suci umat Islam, ada ayat “Tidak ada paksaan dalam agama” (la ikraha fi ad-diin…QS Al-Baqarah: 256), seraya menambahkan, “tetapi kita juga tahu bahwa ayat ini (turun) ketika Muhammad sedang dalam keadaan lemah dan tidak punya kekuasaan. Sedangkan jihad disebut dalam Alquran belakangan kemudian.”

Padahal, ayat Al-Baqarah ayat 256 adalah surat madaniyyah – bukan makkiyah – yang turun berkenaan dengan kaum Anshar di Madinah, yaitu, tentu saja terjadi setelah hijrah yang menunjukkan bahwa ayat ini turun justru ketika Nabi Muhammad sudah memiliki kekuasaan sendiri di Madinah. Sesungguhnya menurut riwayat Ibnu Abbas dari Ibnu Jarir dari Sa’id atau Ikrimah, ayat ini justru melarang seorang bernama Al-Hushain dari suku Bani Salim bin ‘Auf dari kaum Anshar memaksa anaknya yang beragama Nasrani untuk memeluk Islam.

Dan barulah muncul kutipan kontroversial itu “Tunjukkan kepadaku, apa yang baru dibawa Muhammad, dan kamu akan menemukan yang buruk-buruk dan tidak manusiawi, seperti misalnya perintah (Muhammad) untuk menyebarkan agama dengan pedang.” Manuel menambahkan, “Tuhan tidak menyukai darah. Bertindak irasional adalah bertentangan dengan sifat Tuhan. Iman adalah buah dari jiwa, bukan badan. Untuk mengarahkan seseorang ke arah keimanan, yang diperlukan adalah pembicaraan yang baik dan argumen yang benar, bukan kekerasan dan ancaman. Untuk meyakinkan sebuah jiwa, yang diperlukan bukanlah tangan yang kuat ataupun senjata, ataupun ancaman kematian”.

Jadi kutipan menghebohkan di atas sesungguhnya didasarkan atas argumen sebelumnya, yaitu “Islam disebarkan dengan pedang” yang ternyata memakai dasar yang salah yaitu – sekali lagi – Al-Baqarah:256 adalah ayat yang turun setelah Nabi Muhammad mempunyai kedudukan yang kokoh di Madinah, sehingga ayat ini bukanlah “ayat basa-basi” yang diturunkan ketika Nabi Muhammad lemah. Argumen Manuel II yang dikutip oleh Profesor Khoury dan dikutip lagi oleh Paus Benediktus XVI menunjukkan seolah-olah Islam adalah “contoh agama di mana iman disebarkan dengan paksaan dan kurang rasional”.

Lebih lanjut Paus menambahkan – kali ini bukan lagi kutipan dari Manuel II, melainkan komentar Profesor Khoury – “Tuhan dalam Islam adalah transenden. Dia tidak terjangkau oleh pikiran kita dan juga rasionalitas.” kali ini Khoury mengutip “ahli Islam” Prancis R. Arnaldez yang juga mengutip cendekiawan muslim Andalusia (Spanyol) abad ke-11. Dengan demikian kutipan dari kutipan ini menyiratkan bahwa dalam Islam sungguh-sungguh tidak dikenal rasionalitas.

Semestinya kalau bicara soal rasionalitas Paus mengutip juga kenyataan, bahwa pemikir-pemikir muslim Andalusia lah yang meneruskan pemikiran-pemikiran filosofis-rasional dari Yunani kepada Eropa, setelah pemikiran Aristotelian sempat tidak dikenal di Eropa sendiri. Pemicu “Abad Pencerahan” atau Aufklarung di Eropa sesungguhnyalah buku-buku Averroes (bahasa Latin dari Ibnu Rusyd) dan Avicenna (bahasa Latin dari Ibnu Sina), dengan perdebatannya dengan Algazen (bahasa Latin dari Al-Ghazali) yang mewakili kubu lainnya. Buku-buku Ibnu Rusyd dan para pengagumnya di Eropa sempat menjadi “buku subversif” yang dilarang Gereja Katolik pada masa itu (Assyaukanie, 2005).

Kemarahan tak terkendali

Pepatah mengatakan, seorang mukmin itu tidak akan terantuk batu dua kali. Atau dalam kata-kata lain, tidak masuk lubang dua kali. Akan tetapi tampaknya pepatah ini tidak berlaku di tahun 2006 ini.

Awal tahun 2006 terjadi kemarahan besar kaum muslimin di seluruh dunia terhadap koran regional Denmark Jyllands-Posten. Kemarahan itu ternyata tidak membuahkan hasil yang diinginkan karena Jyllands-Posten dan pemerintah Denmark tidak merasa perlu meminta maaf. Belakangan malah anarkisme yang ditimbulkan oleh kemarahan itu menjadi makanan empuk media massa Eropa betapa Islam dan umat Islam memang akrab dengan kekerasan.

Mungkin akibat ini tidak dirasakan oleh kaum Muslimin yang tinggal di negara yang banyak berpenduduk Muslim, tetapi sangat dirasakan oleh kaum Muslimin yang tinggal sebagai minoritas di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Demikian juga kali ini, ketika kemarahan kaum Muslimin di berbagai negara akibat orasi Paus. Seorang biarawati di Somalia tewas tertembak oleh orang tak dikenal. Gelombang demonstrasi berupa orang yang berteriak-teriak dengan muka beringas menghiasi media-media utama Eropa. Politisi-politisi Eropa mulai menuntut kepada Muslim minoritas untuk “menyatakan sikap dan perbuatan tegas terhadap tindak kekerasan”.

Kalau sudah begini, yang paling menjadi korban adalah para imigran lugu yang tidak tahu apa-apa. Kebanyakan imigran Turki di Jerman adalah pekerja rendahan tapi jujur dan lugu, mereka tidak bermaksud jahat kepada orang-orang Jerman. Kelemahan mereka adalah karena demikian banyaknya jumlah mereka di Eropa, kemampuan berbahasa mereka juga tidak terlalu lancar.

Sikap kaum Muslimin yang berbuat di luar kewajaran itu turut mendukung dugaan, bahwa tindakan-tindakan terorisme seperti percobaan peledakan pesawat terbang sipil dan kereta api memang diinspirasikan oleh ajaran agama. Tendensi itu lebih terasa seteleh kemarahan pascaorasi Paus.

Ronald Pofalla, Sekretaris Jenderal Uni Kristen Demokrat, partai berkuasa di Jerman, dengan marah mengatakan bahwa kekerasan berbasis agama adalah masalah yang timbul dari kaum Muslimin, Dia menuntut agar kaum Muslim Jerman yang jumlahnya hampir 4 juta orang membuktikan dengan nyata tiga hal: penerimaan kebebasan berpendapat, persamaan hak laki-laki dan perempuan, serta penolakan penggunaan kekerasan. Kebebasan berpendapat di sini berarti juga hak mengritik bahkan menghina agama sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap agama-agama lain di Eropa – kecuali Yahudi tentu karena bisa-bisa langsung dianggap antisemit. Tuntutan itu mengandung pesan anggapan sebaliknya, yaitu bahwa kaum Muslimin memang tidak toleran, menindas perempuan, dan absah menggunakan kekerasan. Suatu hal yang harus dibuktikan oleh kaum Muslimin sendiri.

Tindakan reaktif hanyalah merugikan secara jangka panjang. Sayang sekali, “prestasi” pemimpin-pemimpin Muslim Indonesia yang megimbau untuk tidak bersikap reaktif kepada Paus sama sekali tidak dimuat oleh media-media massa dunia yang berpengaruh. Ketua Umum PP Muhammadiyyah Din Syamsuddin menyesalkan ucapan Paus tetapi menyerukan agar umat Islam memaafkannya. Ketua Umum Nahdlatul ‘Ulama yang disebut-sebut memiliki 60 juta anggota dan simpatisan, Hasyim Muzadi, mengatakan “Paus hanya seorang manusia yang bisa berbuat salah”. Akan tetapi, usaha menyejukkan dari dua pemimpin ormas Islam terbesar di muka bumi itu tidak sampai di media-media Barat.

Adalah mungkin satu usaha mulia untuk mulai melakukan upaya pengiriman statement resmi ke media-media seperti al-Jazeera, CNN, BBC, Sueddeustche Zeitung, der Spiegel, dan lain-lain, dalam bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Upaya klarifikasi lewat media ini harus dilakukan secara profesional dan biaya yang tertentu pula. Model yang sekarang harus dicoba adalah model “jemput bola” secara internasional, tidak lagi “menunggu jemputan”. Ini bisa jadi projek media paling penting sepanjang sejarah umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia.***

Alumni ITB kelahiran Bandung, mantan aktivis Salman ITB, bekerja di Jerman.

Iklan

2 Komentar »

  1. Muslim harus dapat membuktikan kebenarannya dan harus terbuka, serta mau menerima segala kritik. KARENA

    Komentar oleh Mr. Nunusaku — Desember 18, 2006 @ 3:39 pm | Balas

  2. Brilliant!

    Dari Sahabat lama…

    Komentar oleh Bobby Berlianto — Maret 14, 2008 @ 3:40 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: