Esai-esai Nano

November 20, 2006

Bangkit dari Kehinaan

Filed under: Indonesia — estananto @ 7:53 pm

Artikel di Harian Pikiran Rakyat, 20 April 2006

Bangkit dari Kehinaan

Oleh ESTANANTO

“This is not charity. This is business: business with a social objective, which is to help people get out of poverty. Other banks were not giving loans to these people.”

(Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank, Bangladesh.)

AKHIR-akhir ini sedang hangat dibicarakan bagaimana Australia mempermalukan Indonesia dengan lebih mempercayai 43 orang pencari suaka daripada jaminan Presiden Republik Indonesia. Kita makin merasa sebagai bangsa yang kedaulatannya diragukan, bahkan negara tetangga kita itu terang-terangan mengizinkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) prokemerdekaan Papua beroperasi dari wilayahnya. Wajar sekali negeri kita dipandang sebelah mata, karena memang demikian lemah keadaannya, walaupun berpenduduk 220 juta jiwa.

Salah satu kelemahannya adalah ketidakmampuan memanfaatkan potensi yang ada, yang sesungguhnya sangat besar. Padahal, sekali Indonesia mampu memanfaatkan secara optimal potensi-potensi yang dimilikinya, kemajuan yang akan diperoleh tidak akan terbayangkan sebelumnya. Termasuk di dalamnya kemajuan Jawa Barat yang merupakan salah satu lumbung pangan Indonesia.

Paradigma Toffler

Kemajuan Cina, raksasa baru yang mulai diperhitungkan Barat, dalam pembangunannya acap kali dihubungkan dengan ketegasannya memberantas korupsi, misalnya apa yang ditulis oleh Asro Kamal Rokan di Harian Republika tanggal 21 Juli 2004. Tetapi sesungguhnya bukan karena itu saja. Indonesia pun “sukses” membawa Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam dan Gubernur Banten ke muka pengadilan karena kasus korupsi, tetapi belum ada perbaikan signifikan kecuali menguatnya rupiah di kisaran 9.000 rupiah per dollar. Seiring dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), harga-harga makin mahal, bahkan sejak 2004 muncul wacana telah terjadinya deindustrialisasi (Kompas, 26 Januari 2004), bahkan denasionalisasi (Kompas, 4 Februari 2004). Pemutusan hubungan kerja mencapai angka 100 ribu orang sepanjang tahun 2005, pengangguran mencapai 10,8 juta jiwa tahun 2005.

Pemerintahan SBY-MJK sudah mencanangkan projek infrastruktur senilai 150 miliar dolar AS, memuluskan Exxon di sengketa blok Cepu, dan menjamin Freeport tidak akan ditutup (namun berjanji akan mengevaluasi), demi mengundang masuk investor asing dan membuka lapangan kerja. Sepertinya sejarah berulang, ketika tim ekonomi Soeharto tahun 1967 memutuskan untuk memuluskan modal asing masuk Indonesia. Di tahun itu pulalah, Freeport McMoran diizinkan menambang tembaga di Irian Jaya yang baru 4 tahun masuk wilayah Republik Indonesia.

Akan tetapi, saat ini sektor pertanian sebagai penyerap lebih dari 40% tenaga kerja hanya mendapatkan alokasi kredit 8%, sementara industri yang hanya menyerap kurang dari 12% tenaga kerja mendapat 32% alokasi (H. Soeharsono Sagir, Pikiran Rakyat, 28 Februari 2006). Padahal, Malaysia dan Thailand dulu beranjak dari agrobisnis dan agroindustri sebelum melangkah ke industrialisasi. Jangan-jangan kita terjebak seperti pada pepatah “ingin mendapat burung pipit di udara, punai di tangan dilepaskan”. Akibatnya dua-duanya tidak dapat.

Apa yang kita punya sebenarnya adalah potensi agraris. Baik sektor pertanian dan perikanan merupakan potensi Indonesia yang luar biasa, hanya saja tidak dikelola dengan manajemen modern. Petani sebenarnya adalah entrepreneur kecil: dia merencanakan, mengumpulkan modal, mempersiapkan benih, tanah, dan pupuk, mengatur penanaman dan pemeliharaan, hingga memanen dan menjualnya. Akan tetapi, mereka tidak tahu tentang kultur jaringan, mekanisme pembentukan harga komoditas, dan pengolahan pascapanen berorientasi pasar.

Kita terjebak pada paradigma Tofflerian yang menganggap era agraris adalah era sebelum era industri dan melupakan konteks historis terbitnya paradigma ini. Ketika revolusi industri terjadi di Eropa, orang-orang Eropa tidak serta- merta meninggalkan sektor pertanian. Mereka hanya menggeser lahan ke daerah-daerah jajahan di Asia, seperti Indonesia. Keuntungan Belanda dari komoditas teh, kopi, dan tembakau dari Indonesia saja sedemikian besar sehingga diduga berperan penting dalam pembangunan infrastruktur di Negeri Belanda abad ke-19, demikian juga keuntungan Britania Raya dari komoditas karet di Malaysia adalah fenomena tersendiri setelah ledakan kebutuhan ban dari industri otomotif.

Teknologi pertanian bukanlah “hanya”, ia adalah juga sesuatu yang kompleks: dari penyiapan bibit, pengondisian lahan, perawatan tanaman, strategi panen, dan perkiraan permintaan pasar, serta manajemen kesemuanya itu. Nilai keseluruhan kesemuanya bisa mencapai triliunan rupiah dan menyerap banyak tenaga kerja terdidik. Keberhasilan sektor pertanian di pedesaan akan memperlambat laju urbanisasi yang membebani kota-kota industri seperti Bekasi, Tangerang, dan Cimahi.

Salah satu komoditas pokok pertanian adalah beras. Sayangnya politik pemerintah yang dilakukan sejak Orde Baru adalah menjaga agar biaya pangan buruh murah sehingga harga beras dijaga dalam tingkat harga yang cukup rendah. Padahal, menurut dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Winarso Drajad Widodo, petani baru akan untung dengan standar UMR DKI 2002 sebesar Rp. 600.000,00- sebulan dengan harga gabah kering petani (GKP) Rp. 2275,00- per kg atau harga beras setara dengan Rp. 5130,00- per kg. Padahal harga GKP terendah di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah Rp 1250,00- dengan gabah kualitas rendah dan tertinggi yang sekarang berlaku bulan Februari 2006 adalah Rp. 2720,- per kg dengan kualitas GKP. Di Karawang harga tertinggi gabah kualitas rendah adalah Rp. 2500,00-, dan ini hanya sedikit di atas harga Rp 2275,00- yang dihitung Dr. Winarso Drajad Widodo di atas. Bagaimana dengan investasi yang dibutuhkan untuk musim tanam berikutnya, biaya untuk peningkatan kualitas hasil panen, dan biaya pemasaran atau distribusi?

Dari angka rata-rata yang didapat, terlihat bahwa petani beras belum menjadi pekerjaan yang sangat menguntungkan, padahal jutaan orang menggantungkan nafkahnya di lahan ini. Kita belum membahas bagaimana kehidupan para nelayan yang sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik ada yang mengurangi jadwal melaut atau bahkan ada yang nekat menggunakan formalin karena biaya pendingin ikan menjadi mahal.

Pengabaian ini justru berakibat negatif pada kota-kota tempat industrialisasi karena urbanisasi yang tak tertahankan. Banyak orang yang terpinggirkan di sektor pertanian dan perikanan kemudian mencari kehidupan baru di kota. Penghidupan mereka yang sulit di daerah asalnya memaksa mereka berurbanisasi. Kota menjadi padat dan tidak mampu lagi menyediakan sarana kehidupan standar, hanya mereka yang mampu membayar dapat memperoleh sarana standar yang eksklusif. Kota seperti Bandung tidak mampu lagi menampung sampah yang dibuang penduduknya, padahal seharusnya sistem pembuangan sampah yang baik adalah infrastruktur standar sebuah kota. Di kota seperti Bekasi atau Depok, tukang gali tanah yang datang dari daerah pertanian mengadu nasib hanya mendapat upah Rp. 30.000,00- setiap hari, itu pun jika ada pekerjaan dari pagi hingga malam. Walaupun angka ini termasuk tinggi jika dibandingkan upah buruh tani di pedesaan, tapi karena mereka tinggal di kota, angka ini menjadi kecil untuk memperoleh kehidupan yang layak.

Di sini terlihat bahwa strategi penyediaan buruh murah untuk industri dengan menekan harga gabah ternyata menekan mereka yang disebut sastrawan Ahmad Tohari sebagai “petani produsen”. Sementara “petani konsumen”, yaitu buruh tani yang tidak memiliki lahan, berposisi sama dengan buruh di kota, yaitu makin murah harga beras, makin baik. Akan tetapi, seandainya “petani produsen” tidak mampu menjalankan usaha taninya maka yang terkena adalah “petani konsumen” dan akhirnya mereka harus mengadu nasib di daerah lain.

Penciptaan pusat-pusat pertumbuhan selain pusat industri harus dilakukan dengan meletakkan skala prioritas yang tepat. Sarana infrastruktur seharusnya tidak semata-mata untuk ditawarkan kepada investor asing, melainkan untuk menghidupkan daerah-daerah potensial agar memberikan penghidupan bagi penduduknya. Lancarnya transportasi dan komunikasi antara pusat-pusat penghasil komoditas seperti produk pertanian, produk perikanan, dan kerajinan, serta inovasi yang terus berlangsung di pusat-pusat tersebut. Aspek permodalan bagi pengusaha kecil, sebagaimana yang dilakukan BRI dengan kredit mikronya atau Grameen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus di Bangladesh akan juga sangat menentukan.

Jaringan pita lebar

Kata orang-orang tua Sunda, ambeg paramaartha adalah suatu yang penting dalam hidup. Salah satu contohnya adalah penggunaan saluran telekomunikasi pita lebar (broadband). Keberadaan sarana ini sangat vital untuk pertukaran data yang cepat, misalnya lewat saluran Asymmetrical Digital Subscriber Line (ADSL) baik lewat kabel ataupun tanpa kabel. Dengan pertukaran yang melibatkan data yang banyak dan waktu yang singkat, transaksi berupa tulisan, gambar, maupun suara dapat cepat dipertukarkan untuk terjadinya transaksi bisnis dapat terjadi seketika. Seorang pengusaha kerajinan di Tasikmalaya setelah melakukan kontak pertama, cukup melakukan teleconference dengan rekan bisnis di Jakarta atau bahkan di Singapura atau Amsterdam, dan bahkan bisa langsung menanyakan kemauan pelanggannya di tempat yang jauh.

Dia pun bisa langsung mengirimkan gambar produknya kepada para pelanggan dalam hitungan detik, tidak seperti saluran telefon biasa yang hanya berkecepatan maksimal 56 kubit/detik. Cepatnya perolehan informasi akan menguntungkan produsen mengetahui keinginan konsumen sebelum harga dipermainkan oleh spekulan.

Kemajuan telekomunikasi akan mendorong lahirnya industri teknologi informasi (TI), apalagi Jawa Barat memiliki banyak universitas sehingga berpotensi mengembangkan konsep Bandung High Tech Valley (BHTV) yang disosialisasikan sejak 1990-an oleh para dosen ITB. Ini tentu akan memberikan manfaat timbal balik bagi kemajuan pusat-pusat pertumbuhan tadi. BHTV bisa jadi sejajar dengan Bangalore di India atau Penang di Malaysia. Tapi sekali lagi, investasi yang cukup dibutuhkan untuk menumbuhkan jaringan telekomunikasi yang menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan produksi lokal ini.

Di samping itu dibutuhkan juga investasi untuk pertukaran barang, baik untuk mendatangkan bahan baku maupun pemasaran. Angkutan massal untuk penumpang dan barang sangat diperlukan agar siklus transaksi menjadi makin singkat. Moda transportasi apa yang cocok bagi suatu daerah tentu harus dicocokkan dengan keadaan daerah tersebut. Investasi memerlukan dana, dan pemerintah daerah biasanya mengandalkan pajak daerah untuk membiayai investasi pembangunan. Kereta api adalah sarana paling efektif, tetapi untuk menambah lokomotif dan gerbong serta sistem persinyalan tentu membutuhkan investasi triliunan rupiah.

Jika ekonomi berkembang, pemerintah daerah dan pusat akan memperoleh lebih banyak pendapatan di samping tentu ekonomi yang bergairah akan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Iklim ekonomi yang bergairah, seperti Korea, Cina, atau India, akan meningkatkan rasa hormat dari negara tetangga daripada jika justru kita selalu menjadi sumber masalah. Inilah salah satu cara meningkatkan harga diri bangsa Indonesia, tidak cukup hanya dengan retorika atau demonstrasi.***

Penulis, alumni Teknik Fisika ITB, tinggal di Jerman.

1 Komentar »

  1. bagaimana caranya supaya blog kita nongol di mesin pencari seperti google, dll.

    Komentar oleh herizal — Maret 13, 2007 @ 12:49 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: