Esai-esai Nano

Februari 8, 2006

Perang Peradaban?

Filed under: Eropa — estananto @ 9:41 pm

Salam,

sekarang ini di Eropa, khususnya Jerman, media massa (lagi2 media!) sedang ramai memperbincangkan tentang Perang Peradaban (Clash of Civilization) yang diramalkan Huntington. Huntington berkata, bahwa yang jadi masalah adalah Islam dan Barat itu sendiri, bukan pemeluk atau penganutnya.
Situasi makin panas karena amuk massa akibat demonstrasi tidak berhenti, sedangkan Denmark bersikukuh dengan sikapnya dan perlahan dibantu negara-negara Uni Eropa yang lain. Opini di Eropa sudah sangat Islamofobia sedangkan di dunia Islam sudah sangat Barat-fobia. Dalam kondisi ini tidak dimungkinkan lagi adanya dialog dan barangkali akan adanya konsekuensi lebih dalam dari kontroversi ini.
Ingat bahwa dalam tiap lakon, penonton selalu bersimpati pada pihak yang tertindas. Mula-mula simpati dunia mengarah ke kaum Muslim, karena gambar karikatur yang kampungan itu memang tidak bisa diterima akal sehat. Ketika kedutaan di Damaskus terbakar, konsulat di Beirut dibakar, di Teheran dirusak, Dubes Denmark di Jakarta diancam dengan karikatur besar yang menggambarkan PEMENGGALAN kepalanya, simpati berbalik ke Eropa, sampai sekarang. Di sini kekalahan umat Islam terjadi. Sangat ironis karena katanya membela Nabi saw, tapi tidak mencontoh teladan Nabi.
Korbannya terutama nanti adalah Muslim di Eropa. Dulu tahun 1938, ada seorang Yahudi menembak diplomat Jerman di Polandia. Sebagai akibatnya pemerintah Jerman waktu itu “menggerakkan” kampanye anti-Yahudi. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelangga. Gara-gara sedikit orang gila, hancur masa depan orang-orang ynag tak tahu apa-apa. Kini bukan tidak mungkin peristiwa yang sama terjadi di Eropa, gara2 kurang bijak dalam memperjuangkan maksud. Maksudnya membela kehormatan Nabi, malah kebablasan sampai membahayakan nasib saudara seiman.
Di Denmark pemerintah sayap kanan yang sekarang berkuasa didukung lebih dari 50% rakyatnya untuk tidak minta maaf gara2 kartun. Di Perancis kandidat sayap kanan Le Pen mendapat simpati tertinggi (25%) dari rakyat Perancis, di Jerman poll terakhir menunjukkan 55% responden menganggap kehadiran kaum Muslimin di Jerman lebih sebagai ancaman daripada rahmat. Retorika anti-Muslim makin mendapat tempat di politisi-politisi Eropa, bahkan Menteri Dalam Negeri negara bagian Bavaria mengatakan Al-Qur’an tidak sesuai dengan konstitusi Jerman. Semua orang tahu bahwa tidak ada kitab suci yang 100% cocok dengan konstitusi Jerman, tapi semua tahu ke mana arah retorika ini: orang Islam yang berpedomankan Al-Qur’an dan ingin tinggal di Jerman, hati-hatilah. Saya baru saja menyaksikan talkshow di sebuah TV Jerman dan katanya banyak orang berpendapat, negara Jerman sudah terlalu baik kepada orang-orang Islam di Jerman.
Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia harus mengambil sikap. Adili orang-orang yang merusak konsulat di Surabaya serta mengancam dubes Denmark, beritakan BESAR-BESAR di semua media massa. Besar-besar sampai media massa kelas semut di Eropa juga mau memberitakannya di halaman depan. Di saat yang sama pemerintah dan ormas2 besar seperti NU dan Muhammadiyyah harus mengambil posisi tegas untuk membawa bangsa mayoritas Muslim ini menuju kemajuan seperti Korea Selatan dan Cina, kalau tidak SEUMUR-UMUR kita dan anak cucu kita diinjak-injak dan dipermalukan oleh orang Eropa. Bayangkan, Cina juga tidak punya demokrasi tapi apakah Amerika dan Eropa berani macam2? Cina juga punya senjata nuklir, apa Amerika berani meng-Iran-kan Cina? DALAM 10 TAHUN PENDAPATAN PER KAPITA KITA HARUS BISA MENINGKAT 3 KALI LIPAT. Wong cilik yang sebagian besar NU, harus bisa dapat pekerjaan yang layak. Kita butuh kerja lebih keras lagi daripada cuma bakar-bakar bendera Denmark, atau anak cucu kita AKAN DIPERMALUKAN LAGI seperti sekarang ini.

Munich, 10 Muharram 1427

Iklan

1 Komentar »

  1. kenapa harus mempermasalahkan soal agama kalo semuanya membicarakan tentang pambangunan dan kemajuan bangsa serta kemakmuran rakyatnya sendiri seperti di indonesia sekarang ini…gak usah ngomongin agama karena terlalu sensitif untuk dibicarakan lebih baik berkaca bukan karena agama suatu negara bisa maju, seperti yang sering terjadi sekarang-sekarang ini…yang seiman pun saling berselisih apalagi kalo bulan puasa yang katanya bulan suci bulan yang penuh rahmat tapi apa buktinya? razia dan main hakim rame-rame, penggerabekan warung dan diakhiri dengan kekerasan, razia minuman keras tapi kenapa yang dirazia bukan pabriknya malah rakyat kecil yang dirazia apakah dengan begitu bulan akan menjadi suci?, penuh rahmat ? saya rasa tidak…ya sudahlan kita buang jauh-jauh masalah tersebut dan kembali kemasalah kemajuan bangsa..ada yang pernah bilang bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai sejarah kalo gak salah presiden Soekarno yang bilang tapi memang benar itu semua, seperti contoh baru2 ini budaya kita sendiri (Reog Ponorogo) diklaim oleh negara lain lalu artifak disolo bisa hilang ya walaupun sedang diusut tapi ini telah menjadikan bukti bahwa kita sendiri sudah tidak peduli lagi akan sejarah bangsa indonesia sendiri.

    Komentar oleh galih — Desember 5, 2007 @ 5:59 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: