Esai-esai Nano

Januari 7, 2004

Nasib Yahudi, Muslim, dan Eropa

Filed under: Eropa — estananto @ 10:36 pm

ARTIKEL

Rabu, 07 Januari 2004

440_garis_atas.gif (100 bytes)
 
Nasib Yahudi, Muslim, dan Eropa
Oleh ESTANANTO“Wer sich selbst und andere kennt,
Wird auch hier erkennen:
Orient und Okzident
Sind nicht mehr zu trennen.

Sinnig zwischen beiden Welten
Sich zu wiegen, lass ich gelten;
Also zwischen Ost und Westen
Sich bewegen, sei’s zum besten.”

(dari: West-oestlicher Divan, Johann Wolfgang von Goethe)

PENGHUJUNG tahun 2003, Presiden Republik Federal Jerman, Johannes Rau membuat panas kuping para politisi Jerman. Rau membuat pernyataan, bahwa jika jilbab tidak boleh digunakan oleh para guru Muslimah di Jerman, maka simbol keagamaan lain seperti simbol Salib dan simbol Yahudi juga tidak boleh muncul di sekolah. Tidak seharusnya –menurut Rau dalam wawancara dengan televisi ZDF tanggal 28 Desember 2003– warga Muslim di Jerman yang berjumlah 3,2 juta jiwa menjadi warga negara kelas dua.

Mereka juga harus diakui. Padahal banyak politisi Jerman seperti Edmund Stoiber percaya, bahwa jilbab adalah simbol fanatisme dan intoleransi. Beberapa yang lain lagi percaya bahwa “budaya Kristen” adalah fundamen yang harus dijaga di Jerman dan tidak dapat diperlakukan sama dengan Islam yang kebanyakan dianut oleh imigran pendatang.

Mahkamah Konstitusi Jerman telah mengeluarkan keputusan berkenaan jilbab di sekolah, yaitu guru Muslimah tidak dapat dilarang mengenakan jilbab di sekolah negeri jika tidak ada peraturan yang khusus melarangnya. Maka negara-negara bagian Jerman pun ramai-ramai membuat peraturan khusus tentang jilbab, terutama negara bagian Baden-Wuerttemberg dan Bayern.

Alasannya adalah sebagaimana yang dikemukakan di atas, jilbab dianggap lambang fanatisme dan intoleransi.

Salah paham? Barangkali. Ketakutan yang berlebihan terhadap Islam, yang ditiupkan oleh media yang mengejar tiras, bisa jadi menimbulkan histeria anti-Islam yang mendalam. Majalah-majalah, misalnya, lebih suka memuat kasus bagaimana seorang gadis Turki dikejar keluarganya untuk dikawinkan dengan pria pilihan keluarga atau kisah-kisah seram lain seperti bagaimana jihad itu selalu dikobarkan untuk mengancam Barat. Peristiwa 11 September 2001 (New York), 12 Oktober 2002 (Bali), 15 November 2003 (Istanbul) seolah-olah menguatkan anggapan bahwa Muslim memang dilahirkan sebagai pembuat keonaran dan pembunuh rakyat sipil tak berdosa. Tidak ada media besar yang menyiarkan bahwa semua ulama yang berpengaruh di dunia Islam mengutuk keras aksi-aksi biadab itu.

Apakah di kalangan Muslim tidak ada orang berbahaya?

Tentu saja ada. Kita tidak boleh menafikan bahwa beberapa pendapat ekstrem berseliweran juga di kalangan kaum Muslimin. Penulis meragukan keabsahan definisi “sleeper” (orang yang sedang tidur) yang banyak ditakuti di negara-negara Barat. “Sleeper” adalah seorang Muslim yang sehari-hari baik hati, penuh sopan santun, namun sebenarnya dia adalah seorang yang berbahaya. Ketika “imam”-nya mengirim sinyal, barulah dia mulai beraksi: membuat bom, meledakkan bom bunuh diri, dan lain sebagainya. Konsep ini juga dianut oleh pers Indonesia dalam melukiskan tersangka pelaku bom Bali maupun Marriott. Konon mereka baik-baik saja di mata masyarakat walaupun sebenarnya berdarah dingin.

Sebenarnya tidak mungkin ada “sleeper” kecuali dia mengalami kepribadian ganda. Dari ceramah-ceramah, dari buku-buku yang beredar, dari majalah-majalah yang disukai kita dapat mengetahui trend pemikiran yang sedang dipercayai oleh sebuah masyarakat. Kalau opini mengarah ke garis hitam-putih, “kita dan mereka” seperti dalam keadaan perang padahal keadaannya sedang damai, inilah yang harus diwaspadai. Sekali kita mengenali seseorang, tidak ada “sleeper”. Yang ada adalah individu yang pemikirannya jelas kita kenali.

Adolf Hitler dalam bukunya “Mein Kampf” menyebut kaum Yahudi sebagai biang kerok segala bencana. Ide-idenya yang rasistis, tidak memandang manakah Yahudi baik dan manakah Yahudi jahat. Tidak mengenal mana Yahudi cinta damai dan mana Yahudi teroris. Pokoknya Yahudi, titik.

Hitler akhirnya membawa kemalangan kepada bangsa Jerman. Dalam Perang Dunia II, 6 juta orang Yahudi disinyalir tewas di kamp-kamp konsentrasi yang didirikan oleh tentara Hitler. Sungguh malang karena hingga hari ini, film-film dunia, juga film Hollywood, selalu menayangkan orang Jerman sebagai pembunuh dan orang Yahudi sebagai pahlawan, sungguh pun perang telah berlalu 60 tahun yang lalu. Siapa yang belum pernah menonton “Life is Beautiful” atau “The Pianist”?

Sayangnya kisah-kisah lama itu terulang kembali. Kini korbannya bukan hanya bangsa Yahudi, tapi kaum sipil Palestina. Bahkan di kamp-kamp pengungsi, maut menjemput nyawa anak-anak kecil lewat peluru tentara Israel. Dunia tidak berdaya, lewat mekanisme “demokratis” PBB dengan veto Amerika itu. Tidak ada yang lebih membahayakan perdamaian dunia daripada saling serang di daerah itu. Orang Palestina yang frustrasi akhirnya tidak melarang sebagian putranya meledakkan bom bunuh diri terhadap warga sipil. Etika perang menjadi semu, lidahpun menjadi kelu. Tetapi karena pengorbanan selama Perang Dunia II, walaupun jelas korban sipil jatuh dari kedua belah pihak (dan korban sipil Palestina jauh lebih banyak), orang Yahudi selalu dianggap korban dan orang Palestinalah sang teroris. Juga Muslim dianggap orang berbahaya.

Dengan peraturan baru dari pemerintah Amerika Serikat, penumpang setiap penerbangan menuju wilayah Amerika dari Eropa harus merelakan data-data pribadinya diperiksa. Bahkan hingga makanan yang dipesan.

Barangkali untuk mengetahui, jika seseorang tidak makan babi dan minum alkohol dialah sang tersangka. Inilah ironi, juga ketika banyak pemerintahan negara Muslim menjadi sekutu dekat Amerika Serikat.

Haruskah kaum Muslimin di Eropa mengalami nasib seperti kaum Yahudi terlebih dahulu untuk mendapat penghargaan dari masyarakatnya? Ketika propaganda yang dilancarkan tiap hari menyumbat nurani, manusia manakah yang tidak akan gelap mata? Apakah “Hitler-Jerman”, “Hitler-Yahudi”, atau “Hitler-Islam”,

semuanya menakutkan? Di sini, untaian puisi Goethe yang saya kutip di awal tulisan ini menjadi asing.

“Siapa saja yang mengenal dirinya dan orang lain/Akan mengakui/Orient (Timur) dan Oksiden (Barat)/Tidak lagi terpisah.”

Penulis tinggal di Jerman

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0104/07/0808.htm

3 Komentar »

  1. Adalah tugas kita semua untuk menjembatani Timur-Barat, antaragama, anatarbangsa, antarperadaban, agar kemanusiaan kita menunjukkan eksistensinya yang sejati.Salam hangat dari Pearaja Tarutung.

    Komentar oleh Thomson Sinaga — Februari 19, 2007 @ 4:49 am | Balas

  2. Sayang sekali, Hitler tidak tuntas membasmi orang Yahudi. Kalau Hitler menuntaskan pekerjaannya, tentu dunia sekarang jadi tentram dan damai. Dulu saya sangat simpati membaca nasib orang yahudi pada PD II. Tapi melihat sejarah berdirinya Israil melalui perampasan tanah dan harta orang Pelestina dengan tanpa prikemanusian, saya berpendapat memang selayaknya mereka diperlakukan seperti yang dilakukan Hitler

    Komentar oleh aswir — Desember 31, 2008 @ 4:54 am | Balas

  3. kaum migrant tak tau diri.dikasi sejengkal minta sehasta dst.pertama datang merengek minta kerja dan izin tinggal makin lama makin melunjak giring saja mereka kelaut seperti spanyol peristiwa morisco biar bisa dinyanyikan kroncong morisko

    Komentar oleh reogjhatillan — April 13, 2009 @ 5:22 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: