Estananto’s Blog

June 16, 2007

Bedakah Jerman dan Indonesia…

Filed under: Eropa — estananto @ 10:34 pm

… dalam hal pembangunan rumah ibadah?

Jelas beda. Di Jerman, hukum berjalan sehingga tidak perlu ada amuk massa atau preman yang memaksa alat negara. Tetapi pikiran mayoritas-minoritas, pikiran bahwa kaum mayoritas merasa “terancam” oleh agresivitas kaum minoritas, bukan monopoli orang Indonesia.

Baru-baru ini di kota Köln (Cologne) ada sebuah demonstrasi. Perhatikan logo yang dibawa. Foto ini diambil dari majalah Spiegel online.

Moral cerita? Baik di Jerman maupun di Indonesia, iklim beragama masih sangat sumpek dan dipenuhi prasangka. Kalau di Jerman minoritasnya umat Islam, kalau di Indonesia minoritasnya umat Kristiani, tapi stereotip yang diderita keduanya dalam hal rumah ibadah hampir sama.

Bilakah Jerman dan Indonesia bertukar pikiran tentang hal ini?

December 17, 2006

Munich dan Uni Eropa

Filed under: Eropa — estananto @ 5:52 pm

Dalam sebuah koran lokal Munich, Samstag Blatt, menulis artikel menarik di halaman depan edisi 16 Desember 2006. Artikel itu membahas tentang tema pilkada Munich tahun ini. Kandidat dari partai konservatif Kristen Sosialis (CSU) adalah Josef Schmidt yang mengkritisi walikota Munich yang terus menerus terpilih sejak tahun 1993, Christian Ude, sebagai “terlalu aktif di tingkat nasional sehingga melupakan masalah-masalah kota Munich”. Sedangkan Christian Ude sendiri mengangkat tema peran aktif kota-kota Jerman di tingkat Uni Eropa. Ude sendiri adalah ketua “Majelis Kota-kota Jerman” di mana 51 juta orang Jerman yang tinggal di 4700 kota terwakili di dalamnya. Yang menarik, 60% kebijakan yang diambil di tingkat Uni Eropa (bukan tingkat nasional Jerman!) berpengaruh langsung terhadap kebijakan kota di tingkat bawah.

Menarik bukan? Bagaimana dengan implementasi kebijakan otonomi daerah di Indonesia serta kebijakan yang diambil di tingkat ASEAN?

November 20, 2006

Mereaksi Pidato Paus

Filed under: Eropa, Indonesia — estananto @ 7:56 pm

Artikel di Harian Pikiran Rakyat, 2 Oktober 2006

Mereaksi Pidato Paus
Oleh ESTANANTO

Jauh sebelum kontroversi September 2006, bulan Agustus 2005 Paus Benediktus XVI yang baru saja naik tahta menerima 10 delegasi muslim Jerman dalam rangkaian acaranya di “Weldjugendtag” (Pertemuan Pemuda Katolik Sedunia) di Koeln (Cologne). Dalam audiensi itu Paus berpesan agar “menghilangkan kebencian dalam hati” dan “bekerja sama menghadapi teror berbasis agama”.

Sampai saat itu pernyataan tersebut masih merupakan misteri, karena dunia masih ingat betapa kerasnya usaha pendahulu beliau yaitu mendiang Paus Johannes Paulus II dalam mengadakan dialog antariman. Sedemikian hormatnya sebagian kaum muslimin terhadap Johannes Paulus II, Dalil Boubakeur ketua Dewan Islam Prancis menjelaskan, ketika Johannes Paulus II sakit keras bulan April 2005, bahwa muslim juga berdoa untuk kesembuhan Paus (Johannes Paulus II). Suatu harmoni yang sangat baru dalam sejarah tanpa Gereja Katolik sendiri kehilangan jati dirinya.

Setahun setelah Paus Benediktus XVI mengajak untuk “bekerja sama”, dalam orasi ilmiah di Universitas Regensburg beliau seolah memperjelas apa yang dimaksud dengan “kebencian” dan “teror berbasis agama”. Di univesitas ini, tahun 1959 silam beliau pernah menjadi dosen teologi. Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Glaube, Vernunft, und Universitaet” (Iman, Rasionalitas, dan Universitas) itu, tema sebenarnya adalah bagaimana kedudukan iman dan rasionalitas di dunia modern. Paus mengutip diskusi antara Kaisar Manuel II Paleologos dan “seorang terdidik berkebangsaan Persia” yang terjadi antara tahun 1394 dan 1402 ketika Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi Timur terkepung.

Kutipan ini pun diambil dari kutipan buku karya Profesor Theodor Khoury dari kota Muenster. Kutipan ini bagi Paus dalam orasinya adalah “sangat menarik” sehingga diakui sendiri oleh beliau menjadi “titik awal” pemikirannya ketika berbicara tentang masalah iman dan rasionalitas. Untuk melihat apa yang sesungguhnya dikatakan Paus, penulis merujuk ke baik transkripsi asli orasi Paus dalam bahasa Jerman maupun juga terjemahan bahasa Inggris di situs resmi Tahta Suci Vatikan, http://www.vatican.va.

Manuel II menyinggung bahwa dalam Alquran, kitab suci umat Islam, ada ayat “Tidak ada paksaan dalam agama” (la ikraha fi ad-diin…QS Al-Baqarah: 256), seraya menambahkan, “tetapi kita juga tahu bahwa ayat ini (turun) ketika Muhammad sedang dalam keadaan lemah dan tidak punya kekuasaan. Sedangkan jihad disebut dalam Alquran belakangan kemudian.”

Padahal, ayat Al-Baqarah ayat 256 adalah surat madaniyyah - bukan makkiyah - yang turun berkenaan dengan kaum Anshar di Madinah, yaitu, tentu saja terjadi setelah hijrah yang menunjukkan bahwa ayat ini turun justru ketika Nabi Muhammad sudah memiliki kekuasaan sendiri di Madinah. Sesungguhnya menurut riwayat Ibnu Abbas dari Ibnu Jarir dari Sa’id atau Ikrimah, ayat ini justru melarang seorang bernama Al-Hushain dari suku Bani Salim bin ‘Auf dari kaum Anshar memaksa anaknya yang beragama Nasrani untuk memeluk Islam.

Dan barulah muncul kutipan kontroversial itu “Tunjukkan kepadaku, apa yang baru dibawa Muhammad, dan kamu akan menemukan yang buruk-buruk dan tidak manusiawi, seperti misalnya perintah (Muhammad) untuk menyebarkan agama dengan pedang.” Manuel menambahkan, “Tuhan tidak menyukai darah. Bertindak irasional adalah bertentangan dengan sifat Tuhan. Iman adalah buah dari jiwa, bukan badan. Untuk mengarahkan seseorang ke arah keimanan, yang diperlukan adalah pembicaraan yang baik dan argumen yang benar, bukan kekerasan dan ancaman. Untuk meyakinkan sebuah jiwa, yang diperlukan bukanlah tangan yang kuat ataupun senjata, ataupun ancaman kematian”.

Jadi kutipan menghebohkan di atas sesungguhnya didasarkan atas argumen sebelumnya, yaitu “Islam disebarkan dengan pedang” yang ternyata memakai dasar yang salah yaitu - sekali lagi - Al-Baqarah:256 adalah ayat yang turun setelah Nabi Muhammad mempunyai kedudukan yang kokoh di Madinah, sehingga ayat ini bukanlah “ayat basa-basi” yang diturunkan ketika Nabi Muhammad lemah. Argumen Manuel II yang dikutip oleh Profesor Khoury dan dikutip lagi oleh Paus Benediktus XVI menunjukkan seolah-olah Islam adalah “contoh agama di mana iman disebarkan dengan paksaan dan kurang rasional”.

Lebih lanjut Paus menambahkan - kali ini bukan lagi kutipan dari Manuel II, melainkan komentar Profesor Khoury - “Tuhan dalam Islam adalah transenden. Dia tidak terjangkau oleh pikiran kita dan juga rasionalitas.” kali ini Khoury mengutip “ahli Islam” Prancis R. Arnaldez yang juga mengutip cendekiawan muslim Andalusia (Spanyol) abad ke-11. Dengan demikian kutipan dari kutipan ini menyiratkan bahwa dalam Islam sungguh-sungguh tidak dikenal rasionalitas.

Semestinya kalau bicara soal rasionalitas Paus mengutip juga kenyataan, bahwa pemikir-pemikir muslim Andalusia lah yang meneruskan pemikiran-pemikiran filosofis-rasional dari Yunani kepada Eropa, setelah pemikiran Aristotelian sempat tidak dikenal di Eropa sendiri. Pemicu “Abad Pencerahan” atau Aufklarung di Eropa sesungguhnyalah buku-buku Averroes (bahasa Latin dari Ibnu Rusyd) dan Avicenna (bahasa Latin dari Ibnu Sina), dengan perdebatannya dengan Algazen (bahasa Latin dari Al-Ghazali) yang mewakili kubu lainnya. Buku-buku Ibnu Rusyd dan para pengagumnya di Eropa sempat menjadi “buku subversif” yang dilarang Gereja Katolik pada masa itu (Assyaukanie, 2005).

Kemarahan tak terkendali

Pepatah mengatakan, seorang mukmin itu tidak akan terantuk batu dua kali. Atau dalam kata-kata lain, tidak masuk lubang dua kali. Akan tetapi tampaknya pepatah ini tidak berlaku di tahun 2006 ini.

Awal tahun 2006 terjadi kemarahan besar kaum muslimin di seluruh dunia terhadap koran regional Denmark Jyllands-Posten. Kemarahan itu ternyata tidak membuahkan hasil yang diinginkan karena Jyllands-Posten dan pemerintah Denmark tidak merasa perlu meminta maaf. Belakangan malah anarkisme yang ditimbulkan oleh kemarahan itu menjadi makanan empuk media massa Eropa betapa Islam dan umat Islam memang akrab dengan kekerasan.

Mungkin akibat ini tidak dirasakan oleh kaum Muslimin yang tinggal di negara yang banyak berpenduduk Muslim, tetapi sangat dirasakan oleh kaum Muslimin yang tinggal sebagai minoritas di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Demikian juga kali ini, ketika kemarahan kaum Muslimin di berbagai negara akibat orasi Paus. Seorang biarawati di Somalia tewas tertembak oleh orang tak dikenal. Gelombang demonstrasi berupa orang yang berteriak-teriak dengan muka beringas menghiasi media-media utama Eropa. Politisi-politisi Eropa mulai menuntut kepada Muslim minoritas untuk “menyatakan sikap dan perbuatan tegas terhadap tindak kekerasan”.

Kalau sudah begini, yang paling menjadi korban adalah para imigran lugu yang tidak tahu apa-apa. Kebanyakan imigran Turki di Jerman adalah pekerja rendahan tapi jujur dan lugu, mereka tidak bermaksud jahat kepada orang-orang Jerman. Kelemahan mereka adalah karena demikian banyaknya jumlah mereka di Eropa, kemampuan berbahasa mereka juga tidak terlalu lancar.

Sikap kaum Muslimin yang berbuat di luar kewajaran itu turut mendukung dugaan, bahwa tindakan-tindakan terorisme seperti percobaan peledakan pesawat terbang sipil dan kereta api memang diinspirasikan oleh ajaran agama. Tendensi itu lebih terasa seteleh kemarahan pascaorasi Paus.

Ronald Pofalla, Sekretaris Jenderal Uni Kristen Demokrat, partai berkuasa di Jerman, dengan marah mengatakan bahwa kekerasan berbasis agama adalah masalah yang timbul dari kaum Muslimin, Dia menuntut agar kaum Muslim Jerman yang jumlahnya hampir 4 juta orang membuktikan dengan nyata tiga hal: penerimaan kebebasan berpendapat, persamaan hak laki-laki dan perempuan, serta penolakan penggunaan kekerasan. Kebebasan berpendapat di sini berarti juga hak mengritik bahkan menghina agama sebagaimana yang biasa dilakukan terhadap agama-agama lain di Eropa - kecuali Yahudi tentu karena bisa-bisa langsung dianggap antisemit. Tuntutan itu mengandung pesan anggapan sebaliknya, yaitu bahwa kaum Muslimin memang tidak toleran, menindas perempuan, dan absah menggunakan kekerasan. Suatu hal yang harus dibuktikan oleh kaum Muslimin sendiri.

Tindakan reaktif hanyalah merugikan secara jangka panjang. Sayang sekali, “prestasi” pemimpin-pemimpin Muslim Indonesia yang megimbau untuk tidak bersikap reaktif kepada Paus sama sekali tidak dimuat oleh media-media massa dunia yang berpengaruh. Ketua Umum PP Muhammadiyyah Din Syamsuddin menyesalkan ucapan Paus tetapi menyerukan agar umat Islam memaafkannya. Ketua Umum Nahdlatul ‘Ulama yang disebut-sebut memiliki 60 juta anggota dan simpatisan, Hasyim Muzadi, mengatakan “Paus hanya seorang manusia yang bisa berbuat salah”. Akan tetapi, usaha menyejukkan dari dua pemimpin ormas Islam terbesar di muka bumi itu tidak sampai di media-media Barat.

Adalah mungkin satu usaha mulia untuk mulai melakukan upaya pengiriman statement resmi ke media-media seperti al-Jazeera, CNN, BBC, Sueddeustche Zeitung, der Spiegel, dan lain-lain, dalam bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Upaya klarifikasi lewat media ini harus dilakukan secara profesional dan biaya yang tertentu pula. Model yang sekarang harus dicoba adalah model “jemput bola” secara internasional, tidak lagi “menunggu jemputan”. Ini bisa jadi projek media paling penting sepanjang sejarah umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia.***

Alumni ITB kelahiran Bandung, mantan aktivis Salman ITB, bekerja di Jerman.

February 8, 2006

Perang Peradaban?

Filed under: Eropa — estananto @ 9:41 pm

Salam,

sekarang ini di Eropa, khususnya Jerman, media massa (lagi2 media!) sedang ramai memperbincangkan tentang Perang Peradaban (Clash of Civilization) yang diramalkan Huntington. Huntington berkata, bahwa yang jadi masalah adalah Islam dan Barat itu sendiri, bukan pemeluk atau penganutnya.
Situasi makin panas karena amuk massa akibat demonstrasi tidak berhenti, sedangkan Denmark bersikukuh dengan sikapnya dan perlahan dibantu negara-negara Uni Eropa yang lain. Opini di Eropa sudah sangat Islamofobia sedangkan di dunia Islam sudah sangat Barat-fobia. Dalam kondisi ini tidak dimungkinkan lagi adanya dialog dan barangkali akan adanya konsekuensi lebih dalam dari kontroversi ini.
Ingat bahwa dalam tiap lakon, penonton selalu bersimpati pada pihak yang tertindas. Mula-mula simpati dunia mengarah ke kaum Muslim, karena gambar karikatur yang kampungan itu memang tidak bisa diterima akal sehat. Ketika kedutaan di Damaskus terbakar, konsulat di Beirut dibakar, di Teheran dirusak, Dubes Denmark di Jakarta diancam dengan karikatur besar yang menggambarkan PEMENGGALAN kepalanya, simpati berbalik ke Eropa, sampai sekarang. Di sini kekalahan umat Islam terjadi. Sangat ironis karena katanya membela Nabi saw, tapi tidak mencontoh teladan Nabi.
Korbannya terutama nanti adalah Muslim di Eropa. Dulu tahun 1938, ada seorang Yahudi menembak diplomat Jerman di Polandia. Sebagai akibatnya pemerintah Jerman waktu itu “menggerakkan” kampanye anti-Yahudi. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelangga. Gara-gara sedikit orang gila, hancur masa depan orang-orang ynag tak tahu apa-apa. Kini bukan tidak mungkin peristiwa yang sama terjadi di Eropa, gara2 kurang bijak dalam memperjuangkan maksud. Maksudnya membela kehormatan Nabi, malah kebablasan sampai membahayakan nasib saudara seiman.
Di Denmark pemerintah sayap kanan yang sekarang berkuasa didukung lebih dari 50% rakyatnya untuk tidak minta maaf gara2 kartun. Di Perancis kandidat sayap kanan Le Pen mendapat simpati tertinggi (25%) dari rakyat Perancis, di Jerman poll terakhir menunjukkan 55% responden menganggap kehadiran kaum Muslimin di Jerman lebih sebagai ancaman daripada rahmat. Retorika anti-Muslim makin mendapat tempat di politisi-politisi Eropa, bahkan Menteri Dalam Negeri negara bagian Bavaria mengatakan Al-Qur’an tidak sesuai dengan konstitusi Jerman. Semua orang tahu bahwa tidak ada kitab suci yang 100% cocok dengan konstitusi Jerman, tapi semua tahu ke mana arah retorika ini: orang Islam yang berpedomankan Al-Qur’an dan ingin tinggal di Jerman, hati-hatilah. Saya baru saja menyaksikan talkshow di sebuah TV Jerman dan katanya banyak orang berpendapat, negara Jerman sudah terlalu baik kepada orang-orang Islam di Jerman.
Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia harus mengambil sikap. Adili orang-orang yang merusak konsulat di Surabaya serta mengancam dubes Denmark, beritakan BESAR-BESAR di semua media massa. Besar-besar sampai media massa kelas semut di Eropa juga mau memberitakannya di halaman depan. Di saat yang sama pemerintah dan ormas2 besar seperti NU dan Muhammadiyyah harus mengambil posisi tegas untuk membawa bangsa mayoritas Muslim ini menuju kemajuan seperti Korea Selatan dan Cina, kalau tidak SEUMUR-UMUR kita dan anak cucu kita diinjak-injak dan dipermalukan oleh orang Eropa. Bayangkan, Cina juga tidak punya demokrasi tapi apakah Amerika dan Eropa berani macam2? Cina juga punya senjata nuklir, apa Amerika berani meng-Iran-kan Cina? DALAM 10 TAHUN PENDAPATAN PER KAPITA KITA HARUS BISA MENINGKAT 3 KALI LIPAT. Wong cilik yang sebagian besar NU, harus bisa dapat pekerjaan yang layak. Kita butuh kerja lebih keras lagi daripada cuma bakar-bakar bendera Denmark, atau anak cucu kita AKAN DIPERMALUKAN LAGI seperti sekarang ini.

Munich, 10 Muharram 1427

November 7, 2005

Eid Mubarak

Filed under: Eropa — estananto @ 5:24 am

July 11, 2005

London and Srebrenica

Filed under: Eropa — estananto @ 11:21 pm

London is under attack! On Thursday morning, 7 July 2005 four explosions killed 50 and injured 700 people. This was happened when Prime Minister Tony Blair was in occasion of G8 Meeting in Scotland. He quickly stated that the most probably bombers are “Islamist terrorists” but quickly added that he believes that most of Muslims in England are not to be connected with those terrorists. This is the report of the BBC, and attacks against the mosques are already taking place.
We condolence the victims from WTC 11 September 2001, Bali 12 October 2002, Madrid 11 March 2004, and now London 7 July 2005. Those acts have been condemned by people all over the world and let them be an example how killings replace wisdom and how untrust replaces humanity. But so called “general accusations” - mainly against Muslim and Islamic symbols like woman headscarf - do happen everywhere in Western world as much as accusations against the Western colonial powers in the third world.
There was another atrocity in Europe. In Srebrenica, July 1995, 8,000 Bosnian Muslims lost their lives in the hand of Serb General Ratko Mladic, who is still searched to be brought to international trial. Four days after London bombings, Foreign Ministers of French, Dutch, and UK were present in Srebrenica, to commemorate “the worst atrocity in Europe since World War II”. But should we live always in anger, hostility, and revenge?
No, I say. And let’s stop this spiral of violence. Soumayya Ganoushi wrote an article about this. And believe me, one question to be answered is “do you love others more, just the same, or less than you love yourselves?”

June 7, 2005

They have rejected

Filed under: Eropa — estananto @ 10:00 pm

The Dutchmen have rejected. Also those Frenchmen. The EU constitution, which has been also initiated by Vallery Giscard d’Estaing, one of respected former French president, is not only in crossroad: it is nearly dead. Even President Chirac of France, Chancellor Schröder of Germany, and Prime Minister Balkenende of Holland can not resist this decision. The Spiegel magazine cited it as “People’s rebellion against the bureaucrats”. It signalized anger and unsymphatic feelings amongst the people, that the state sovereignity will be taken and be given to EU in Brussel; both of arguments of those who are pros and cons are mainly of economic reason.
The pros say that Europe needs a better competition in order to remain one of world’s power. On the other side, some critics say that one European constitution will take states’ ability to protect its citizens. One example: how could EU protect millions of jobs in Western EU countries from cheap labour from Eastern EU countries? Yet the problem of Turkey, whose process will begin in October 2005 to discuss a certain time Turkey can enter EU. Most of Europeans are not ready to accept Turkey.
Is there any possibility for a “constitutional” people rebellion against bureacracies in Indonesia?

May 10, 2005

Edelweiss

Filed under: Eropa — estananto @ 4:49 pm

Yesterday an Indonesian TV station aired a classical film, Sound of Music (1965). I think the most touchy song in this film is Edelweiss, which was sung by Captain von Trapp:

Edelweiss, edelweiss,
every morning you greet mesmall and white,
clean and bright,
you look happy to meet meblossom of snow may you bloom and grow,
bloom and grow forever
edelweiss, edelweiss, bless my home-land forever

The scene was around the time when Austria “joined” Germany’s Hitler in 1938. This song shows the Captain’s resistance to the Nazis. Ironically Hitler was born in 1889 in Linz, Austria, he was actually Austrian, served as a German soldier in World War I and became very nationalistic, even when compared to the German themselves. He lead the Nazi party, won the election in 1933 and with brutality seized all power to himself. He brought Germany and the world to World War II, and brought also Germany to ruins in 1945.
Every nation, even every person in this world, has a dark side which is enough to think about.

April 24, 2005

Stereotype (1)

Filed under: Eropa — estananto @ 2:57 pm

Want to see a typical stereotype in a conservative German newspaper? Please click here.

*Disclaimer*
I am not responsible of any external links from this web blogsite

December 27, 2004

Uni Eropa memandang Indonesia (1)

Filed under: Eropa, Indonesia — estananto @ 11:53 pm

Seperti apakah Uni Eropa memandang Indonesia? Ini suatu pertanyaan menarik, baik dari sisi kenyataan bahwa Indonesia adalah negara berpendapatan per kapita hanya sekitar 3000 dollar(jika dihitung dari PPP - Purchase Power Parity), negara Asia Tenggara, maupun negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Indonesia sendiri - sebagaimana yang didefinisikan sejak awal - adalah negara multiras, multikultur, multibahasa, dan multiagama. Itulah sebabnya slogan lama dari pujangga Mpu Tantular di masa kerajaan Majapahit “Bhinneka Tunggal Ika” diambil menjadi semboyan negara. Sebenarnya kalimat ini tidak lengkap, karena mengikuti “Bhinneka Tunggal Ika” masih ada “tan hana dharma mangrwa” yang berarti “tak ada dualitas dalam kebenaran”. Maksudnya, agama Siwa dan Budha pada masa Majapahit itu digambarkan sebagai “memang berbeda, tetapi (sebenarnya) satu”. Ini mirip sekali dengan pokok pikiran Ibnu Arabi atau Jalaluddin Rumi di dunia Islam. Mereka bukannya mengatakan “semua agama itu sama” dalam pengertian kasar, namun dalam pencarian hakikat kebenaran, ada masa di mana baju-baju eksoteris tertanggalkan. Bukan berarti Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi meninggalkan sisi eksoteris, mereka dulunya pun adalah ahli fikih (hukum Islam).

Kembali ke cita-cita ideal Indonesia, memang sejak awal toleransi antaragama telah dianjurkan. Para Wali di masa Walisongo membangun masjid dengan atap meru mirip candi-candi Hindu, bukan kubah yang diimpor dari Arab. Pengikut Sunan Kudus memilih tidak makan sapi yang disucikan umat Hindu, padahal sapi tentu saja halal dalam Islam. Sunan Kalijogo terkenal dengan tembang-tembangnya yang diiringi dengan gamelan, bukan rebana a la Timur Tengah. Kecuali perang melawan kerajaan Hindu Pajajaran yang bersekutu dengan Portugis di Sunda Kelapa, yang kemudian berganti nama menjadi Jayakarta (yang juga diambil dari bahasa Sansakerta, bukan bahasa Arab!) pada abad XVI, tidak pernah ada perang agama di kepulauan Indonesia zaman kuno. Di Eropa, segera setelah Reformasi Protestan yang dicetuskan oleh Martin Luther, meletus Perang 30 Tahun antara (pengikut) Katolik dan (pengikut) Protestan pada abad XVII.

Perbedaan pengalaman ini juga mengakibatkan perbedaan paradigma. Indonesia dengan kekayaan sejarah itu merasa yakin bahwa koeksistensi damai antaragama dalam sebuah negara dimungkinkan, sementara Eropa dengan pengalaman yang sebaliknya berpendapat satu-satunya jalan untuk koeksistensi damai adalah memisahkan total agama dengan negara. Yang lebih buruk lagi, Eropa memiliki pengalaman panjang baik dengan Arab Muslim maupun Turki Muslim yang menurut mereka pernah mengancam Eropa. Semenanjung Iberia dulu pernah dikuasai oleh kekhalifahan Umayyah selama hampir 700 tahun, bahkan menjadi tempat pelarian bangsawan Umayyah yang dibantai oleh Bani Abbasiyyah di Timur. Sementara kota Wina yang terkenal itu pernah dikepung tentara Turki tahun 1529 dan 1683. Sedemikian mencekamnya ketakutan “Islamisasi” itu, pola pikir negatif tentang Arab dan Turki terwariskan dari generasi dan generasi. Hingga kini citra Islam sebagai agama barbar masih sangat membekas. Kardinal Lehmann, kepala gereja Katolik Jerman, diberitakan telah berkomentar bahwa toleransi yang ditunjukkan kaum Muslim (di Jerman) adalah semu. Edmund Stoiber, Kepala Pemerintahan Negara Bagian Bavaria sampai berujar bahwa jilbab adalah lambang ekstrimisme dan antitoleransi. Ini barangkali adalah akibat dari generalisasi berlebihan tentang pemakai jilbab. Padahal jilbab dan antitoleransi adalah dua hal yang berbeda. Para suster Katolik di gereja pun memakai kerudung rapat yang mirip dengan jilbab. Bunda Maria pun digambarkan memakai jilbab. Islam dengan demikian hanyalah melanjutkan tradisi sebelumnya dan jilbab ternyata bukan sesuatu hal yang baru. Huntington berujar tentang “Clash of Civilization” karena dia menjadi pengamat dari sebuah wilayah yang hampir homogen secara agama. Subyektivitas Huntington tidak bisa dipungkiri karena dia memandang “Barat” dan “Islam” serta “Konfusianisme” sebagai sesuatu yang “quasihomogen” dan memodelkan begitu saja tentang benturan peradaban. Padahal dalam sejarah, bukan agama atau peradaban yang selalu menjadi motivasi perbenturan melainkan kepentingan, walaupun memakai kedok agama dan peradaban. Judul yang tepat dengan demikian adalah “Clash of Interests” yang memang terjadi di manapun dan kapanpun.

Dari pengalaman-pengalaman tadi, dapatlah diperkirakan apa yang sebaiknya mendasari hubungan Uni Eropa dan Indonesia di masa datang. Indonesia seharusnya tidak malu-malu lagi membawa identitas Muslim Asia Tenggara yang serumpun dengan Malaysia dan Brunai, yang ciri-cirinya benar-benar berbeda dengan Muslim Arab maupun Turki. Benar bahwa Kitab Suci semua sama, bahkan hingga ibadah (karena memang ada hadis Nabi yaitu “Sholluw kama roaytumuniy usholliy” - shalatlah sebagaimana aku shalat), namun proses kesejarahan yang berbeda membuat penekanan keberagamaannya juga berbeda. Uni Eropa juga harus meninggalkan paradigma lama yang cenderung menggeneralisir itu. Semakin banyak pengamat Eropa yang berkecimpung dalam penelitian keislaman di Indonesia seharusnya membuahkan kesimpulan, bahwa konflik agama yang meletus setelah tahun 1998 sebenarnya adalah konflik kepentingan, misalnya masalah kesenjangan sosial antara pendatang dan orang asli atau kebijakan pemerintahan daerah yang dianggap kurang aspiratif. Akhirnya memang, suatu dialog yang lebih intensif dalam wilayah agama dan kebudayaan harus diupayakan.

Older Posts »

Blog at WordPress.com.