Estananto’s Blog

June 16, 2007

Bedakah Jerman dan Indonesia…

Filed under: Eropa — estananto @ 10:34 pm

… dalam hal pembangunan rumah ibadah?

Jelas beda. Di Jerman, hukum berjalan sehingga tidak perlu ada amuk massa atau preman yang memaksa alat negara. Tetapi pikiran mayoritas-minoritas, pikiran bahwa kaum mayoritas merasa “terancam” oleh agresivitas kaum minoritas, bukan monopoli orang Indonesia.

Baru-baru ini di kota Köln (Cologne) ada sebuah demonstrasi. Perhatikan logo yang dibawa. Foto ini diambil dari majalah Spiegel online.

Moral cerita? Baik di Jerman maupun di Indonesia, iklim beragama masih sangat sumpek dan dipenuhi prasangka. Kalau di Jerman minoritasnya umat Islam, kalau di Indonesia minoritasnya umat Kristiani, tapi stereotip yang diderita keduanya dalam hal rumah ibadah hampir sama.

Bilakah Jerman dan Indonesia bertukar pikiran tentang hal ini?

7 Comments »

  1. Jelas beda dunk. Indonesia itu lebih unik, lebih khas, lebih beragam, lebih fleksibel, dan banyak lebihnya.

    Comment by mathematicse — June 18, 2007 @ 8:07 am

  2. stereotip? wajar. orang indonesia juga punya stereotip orang jerman nazi semua, padahal sebenarnya gak.
    orang jerman mungkin punya stereotip muslim itu teroris semua, padahal sebenarnya gak.

    masalahnya, di Koeln ini mau dibikin masjid terbesar di jerman.
    berapa jumlah muslim di koeln? apakah sangat banyak secara signifikan sehingga masjidnya pun harus dibikin besar? saya tidak tahu persis.

    jika memang benar jumlah muslimnya banyak, maka seharusnya kewajiban buat muslim Koeln untuk mensosialisasikan pembangunan mesjid itu ke warga sekitar. oh ya, ini juga problem buat muslim di Jerman, yang kadang dinilai tidak mau berbaur dengan warga sekitar dan membentuk komunitas tersendiri.

    jika muslimnya cuman sedikit, wajar kalau orang akan bertanya2, dari mana datangnya jamaah, yang mestinya datang dari kota-kota lain, atau negara lain. ini bisa menimbulkan persoalan lain, karena pendatang itu jadi biasa siapa saja … bisa orang baik-baik, atau kriminal. dan ini bisa jadi masalah buat kota secara keseluruhan.

    cuma, melihat dari proses demonstrasi dan dialog di Koeln saya melihat bahwa Indonesia masih harus belajar lebih banyak dari Jerman, tentang bagaimana mengekspresikan pendapat yang berbeda tanpa anarki.

    Comment by wikan — June 27, 2007 @ 5:46 am

  3. itu teh alesan demonya kenape?
    Ga setuju karena rasis kayak di indonesia atau alasan-alasan lain?

    Atau jangan-jangan karena mereka ingin menyelamatkan satu situs sejarah yang mau di buah jadi masjid :D

    Comment by sawaung — June 27, 2007 @ 10:21 am

  4. Mas Nano memang tingganya di kota Koeln ya? Oh iya, aku mau tahu, apa di Jerman, sebagai negara hanya mengakui beberapa agama seperti di Indonesia? Atau bagaimana? Satu lagi, apakah ada “Departemen Agama” di Jerman?

    Terimakasih

    Comment by za — June 27, 2007 @ 1:50 pm

  5. boleh tau info lebih lengkap lagi?

    alesannya apa sih kok menentang pembangunan masjid? takut islamisasi? melanggar undang2? ato asal anti-islam karena pemahaman mereka tentang stereotype muslim? atau jangan2 ada alasan lokal yang lebih masuk akal?

    Thx

    Comment by jino — June 29, 2007 @ 9:48 am

  6. Met idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin

    Comment by Aris — October 11, 2007 @ 9:53 pm

  7. Kebetulan saya sempet jalan2 ke Coln dan Dresden 3 bulanan yang lalu. Saya ketemu dengan komunitas muslim Turki yang juga mau membangun satu masjid dan ditentang banyak orang di sana. Saya juga bilang saat itu: “saya mengira bahwa soal relasi antar-agama, warga Jerman sudah selesai, tapi ternyata ada penolakan pembangunan masjid. Jadi kenapa?” Jawabannya kira-kira begini:
    - Jerman dikenal sebagai kota Kristen (atau Katolik) yang sangat bersejarah. Gereja-geraja tua di sana banyak sekali dan diabadikan sedemikian rupa. Pembangunan masjid dikhawatirkan mengaburkan identitas Jerman sebagai “negara Kristen”, atau minimal negara dengan sejarah Kristen yang panjang.
    - Memang ada ketakutan di kalangan publik akibat stereotip bahwa Islam identik dengan terorisme. Bahkan ada satu majalah yang membuat laporan khusus tentang pembangunan masjid itu dengan judul yang sangat provokatif: “Building Conflict”, seakan-akan membangun masjid berarti membangunkan macan tidur. Stereotip ini tentu saja menjadi gejala umum di dunia pasca-WTC 911. Padahal Kalau mereka paham betul karakter detail muslim yang ada di sana, mungkin bisa jadi mereka bersikap lain. Muslim Turki jelas identik dengan muslim yang sangat toleran dan liberal.

    Tapi harus diakui, model penolakan mereka sangat elegan. Ada polling khusus tentang itu. Ada dialog yang panjang antar-komunitas, ada demonstrasi. Tapi tidak ada kekerasan. Tidak ada golok.

    CMIIW

    Anick

    Comment by anick — February 27, 2008 @ 10:18 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.