Estananto’s Blog

June 30, 2009

Bingung Pilih Presiden

Filed under: Indonesia — estananto @ 3:35 pm

Bukan apa-apa, justru karena saya bukan ahli politik atau politikus maka saya makin bingung harus nyontreng yang mana nanti tanggal 8 Juli 2009.

Saya percaya pada mobilitas kelas dalam indikasi perubahan menuju kesejahteraan. Bukan dari angka statistik jumlah penduduk miskin, karena siapapun bisa main angka-angka.

Artinya tingkat kemakmuran bukan diukur dari berapa orang yang ada di bawah dan di atas garis kemiskinan, tapi seberapa banyak orang yang pindah kelas menuju lebih baik. Misalnya yang tadinya tukang sapu dengan daya beli yang sangat kurang lalu bisa membiayai lebih banyak untuk kehidupannya.  Yang tadinya sulit mengumpulkan uang untuk makan kini bisa membeli buku untuk sekolah anak sehingga peningkatan daya beli dapat meningkatkan daya analisa untuk memberi manfaat bagi yang lain. Tapi bagaimana “mengukur manfaat”  dan “perpindahan kelas”?

Tidak ada juga calon presiden yang menekankan kita akan merebut teknologi tinggi untuk memperbaiki kualitas produk-produk industri kita. Banyak orang yang alergi pada strategi Habibie yang dinilai hanya membebani anggaran negara. Tetapi menurut saya Habibie setengah benar. Walaupun ambisi “sejajar dengan bangsa lain” bagi saya harusnya bukan jadi prioritas, tetapi kualitas produk industri kita apakah itu industri agro atau industri tekstil sampai industri telematika dan alat angkutan, harus menjadi sasaran inovasi.

Kita sering dihadapkan anggapan keliru seperti pertanyaan semacam ini: “bangsa kita bisa nggak bikin X?”. Ini sangat keliru, karena kalau hanya membuat prototip sih itu hanya bicara soal awal dari suatu penciptaan produk. Ada proses manufaktur, ada proses quality control. ada proses marketing dan after sales service, semuanya menentukan kualitas produk dan inovasi produk yang tentu harus bisa dijual. Tidak cukup sampai situ, harus juga bisa menantang produk lain, apakah itu di dalam atau di luar negeri. Jadi teknologi tinggi penting untuk persaingan global, agar jangan jadi paria di negeri sendiri.

Ada konflik memang di antara prioritas padat modal dan padat karya. Tetapi di India dan China, mereka melakukan keduanya. Apa peran pemerintah di sini?

  • ada kebijakan yang jelas tentang pusat pertumbuhan yang melibatkan industri dan universitas.  Batam adalah contoh pusat pertumbuhan yang sayang sekali tidak mempunyai universitas. Bandung, Surabaya, Salatiga, Makassar dan daerah sekitarnya mungkin bisa dijadikan kandidat.
  • ada proses transparansi birokrasi yang sistematis sehingga waktu pengurusan perizinan makin cepat dan bersih. Bisa dimulai di daerah-daerah pusat pertumbuhan dengan menerapkan pilot project Single Identification Number dan integrasinya dengan data Depdagri dan Dirjen Pajak.
  • ada komitmen untuk memenuhi infrastruktur kebutuhan transportasi dan telekomunikasi. Yang dilematis memang dananya. Saya kurang tahu apakah memang pinjaman asing (dan kewajiban menggunakan kontraktor dari negara donor) adalah satu-satunya jalan. Kalau bisa sih dari obligasi dalam negeri.

Wah makin lama kok makin bingung ya, mudah-mudahan Indonesia diberikan yang terbaik oleh Yang Maha Kuasa.

June 23, 2009

Mudah-mudahan Orang Jujur Diberkati Tuhan

Filed under: Daily Life, Indonesia — estananto @ 2:53 am

Lama saya tidak menulis blog. Sebetulnya malu kalau tiap Jum’at ketemu pak Budi karena beliau paling rajin menulis blog tiap hari :-)

Pagi ini saya ngobrol dengan seorang developer perumahan di Bandung. Obrolan berlanjut sampai ke pengurusan tanah wakaf. Ada ketentuan bahwa tanah wakaf bisa dialihkan asal ada tanah pengganti.

Nah kebetulan bapak ini mendapatkan tanah pengganti di luar kotamadya Bandung, jadi di kabupaten Bandung. Karena berbeda daerah tingkat II, urusan wakaf ini harus diurus di tingkat propinsi. Baru kemudian nanti sampai ke meja Menteri Agama. Tapi ternyata pengurusan ini berlarut-larut, makan waktu lebih dari 5 bulan yang dijanjikan. Padahal harga tanah naik terus tiap tahun.

Nah bapak developer ini sudah didesak rekan-rekannya untuk memberi sedikit uang lelah kepada pihak-pihak berwenang sebagai praktek lazim agar segala urusan cepat selesai. Tapi Bapak ini menolak. “Biarlah agak lama, yang penting saya tidak menyogok”.

Saya langsung mendoakan, ya Tuhanku berilah balasan hamba-Mu yang mempunyai prinsip seperti ini. Ya Tuhan Yang Maha Adil,  bukankah boleh jadi Engkau menunda azab karena sekelompok kecil orang karena sebagian besar sudah ingkar ? Mungkin hari ini saya bertemusalah satu dari segelintir orang itu…

April 22, 2009

Demi Kehormatanku…

Filed under: Indonesia — estananto @ 12:21 am
Tags: , , , ,

Di TV-TV Indonesia beredar iklan dari Dirjen Pajak, sangat menarik. Ada dua teman lama, yang satu jadi orang pajak dan satu lagi jadi pengusaha. Yang pengusaha ini rupanya baru diperiksa anak buah sang sahabat yang bekerja di pajak dan mencoba negosiasi. Tentu dengan segepok uang dalam amplop coklat yang tertutup rapi (yang saya tidak tahu apakah uang di dalamnya Rp atau USD).
Tiba-tiba sang pejabat pajak teringat sumpah jabatannya (disimbolkan dengan foto pengangkatannya di dinding) dan menolak tawaran sang sahabat, yang kemudian marah dan membanting pintu. Foto mereka berdua yang digantung dekat pintu pun jatuh dan pecah berantakan.

***

Memang setiap iklan pada dasarnya propaganda. Tetapi ini adalah istimewa karena sebetulnya tujuan iklan ini adalah pejabat pajak sendiri. Seandainya tujuannya adalah masyarakat luas, seharusnya diberitahukan bagaimana cara menghindari diri dari menyuap. Misalnya apakah ada telpon hotline yang bisa dihubungi, atau apakah ada supervisor di setiap kantor pajak yang mudah diajak bicara, dan lain sebagainya.

***

Potensi suap menyuap kan selalu ada 2, yang menyuap dan yang disuap. Kalau yang menyuap tidak ada, tentu tidak ada yang menerima. Kalau yang disuap tidak ada, tentu juga tidak ada yang memberi.

Untuk menutup peluang suap sebetulnya flow pelayanan publik bisa dibuat setransparans mungkin, sejelas mungkin, baik bagi pejabat publik maupun bagi masyarakat luas. Sehingga dengan demikian skenario yang akan muncul akan dapat diantisipasi. Trik-trik penyuap dan yang disuap tentu tidak sesederhana dalam iklan, tapi dengan sebuah sistem yang rapi kita akan mampu menghadapinya. Mudah-mudahan.

April 21, 2009

RUU Pembantu Rumah Tangga

Filed under: Indonesia — estananto @ 1:23 am
Tags: , ,

Anda pernah dengar bahwa pemerintah tengah menggodok RUU Pembantu Rumah Tangga (RUU PRT)? Mungkin baru akan diselesaikan nanti setelah anggota DPR baru terpilih.

Menurut blog ini pokok-pokok RUU PRT adalah:

1. PRT tidak boleh di bawah umur 15 tahun. Jika PRT berumur antara 15 dan 17 tahun jumlah jam kerja maksimal adalah 4 jam per hari. Jika PRT di atas umur 17 tahun maka jumlah jam kerja maksimal adalah 10 jam per hari.

2. Jatah istirahat (off of duty) PRT per minggu minimal adalah 1 hari, dan ada jatah cuti tahunan minimum 12 hari.

3. Gaji dibayar sesuai Upah Minimum Regional (UMR) dan Tunjangan Hari Raya (THR) juga harus diberikan. Sistem pengupahan mengikuti UU Tenaga Kerja.

4. Sanksi diberikan bagi pelanggar ketentuan di atas.

5. Penyalur PRT harus mendapat izin pemerintah.

Dampak-dampak yang mungkin muncul adalah:

1. Jumlah TKI ke Luar Negeri akan berkurang. UMK (Upah Minimum Kota) Bandung saat ini adalah Rp. 939.000,- dan UMP (Upah Minimum Propinsi) DKI Jakarta adalah Rp. 972.604,-.  Berarti gaji minimum PRT akan naik drastis 100-300%. Daripada mempertaruhkan nasib ke negeri jauh, mereka akan memilih di dalam negeri saja.

2. Akan tetapi akan banyak (calon) majikan yang mempertimbangkan untuk tidak memiliki PRT atau hanya setengah hari kerja saja per harinya. Ini karena lonjakan gaji itu tentu juga akan terasa di anggaran bulanan rumah tangga. Sebagai sharing, ketika dulu kami 11 bulan di Suzhou, Republik Rakyat China, standar gaji PRT yang kerja 4 jam saja adalah RMB 650,-. Kalau RMB 1 = Rp. 1600,-, maka gaji 4 jam PRT di Suzhou adalah Rp.  1.040.000,-. Padahal gaji insinyur lokal China di Multi National Company (MNC) di daerah itu sekitar RMB. 7000,- (Rp. 11.200.000,-, belum dipotong pajak!). Jadi mempekerjakan PRT di China tidak murah. Padahal gaji PRT di Hongkong masih 4 kali lipat di Suzhou.

3. Akan muncul tuntutan kompetensi PRT. Tentu saja persaingan antar-PRT akan semakin ketat, dan pasar PRT akan memunculkan reputasi PRT yang bersangkutan. Rekomendasi PRT dan jika ada reputasi balai latihan atau sekolah pendidikan PRT akan sangat penting artinya.

Jadi, sudahkah anda bersiap-siap? :-)

April 14, 2009

Salah 10 kali, kartu SIM diblokir!

Filed under: Daily Life — estananto @ 2:54 pm
Tags: , ,

Tiga hari yang lalu saya agak heran mengapa saya selalu gagal mengisi ulang kartu XL prabayar saya:

Top-up failed

Padahal saya sudah berulang kali mencocokkan nomor kode kartu isian ulang yang nilainya Rp. 10.000,- itu. Nomor-nomornya benar kok.
Maka hari ini saya pergi ke XL service center di BEC (Bandung Electronic Center). Saya tanyakan mengapa terjadi top-up failed padahal semua kelihatan ok saja.
Setelah dia melihat nomor saya di basis data (database) XL, menurutnya saya telah salah memasukkan nomor kartu isi ulang sampai 10 kali. Di kali yang ke-11 SIM sudah tidak dapat diisi lagi.
Oh gitu toh ceritanya…

Homeschooling, 1986

Filed under: Indonesia — estananto @ 7:34 am
Tags: ,

diambil dari majalah Tempo, 4 Januari 1986.

Pilihan Lain: Pendidikan Di Rumah

Aldy Anwar, 49, di Bandung mendidik sendiri anaknya kanti, 7, dan IPU, 5 1/2 di rumahnya, tanpa disekolahkan. Mendapat perhatian dari seminar perlindungan hak anak.
DI sebuah rumah sederhana tapi penuh buku, di kawasan Sukaluyu, Bandung, Kamis sore dua pekan lalu. Kanti, 7, membaca buku berbahasa Inggris sambil berbaring di lantai ruang tamu. Adiknya, Ipu, 5 1/2, juga asyik dengan bukunya sendiri. Sikap anak anak itu begitu bebas, tak terganggu dengan adanya Didi Sunardi, wartawan TEMPO yang sedang mewawancarai ayah mereka di ruang itu juga. Sekali-sekali, Kanti atau Ipu berteriak menanyakan sesuatu yang tak mereka ketahui kepada ayahnya. Dan Aldy Anwar, 49, dengan suaranya yang kecil, pelan, tapi Jelas menerangkan soal yang ditanyakan. Sepintas keluarga ini tak bedanya dengan keluarga-keluarga kelas menengah Indonesia yang lain. Tapi, tahukah Anda bahwa Kanti dan Ipu sama sekali belum pernah duduk di bangku sekolah? Dan yang mereka baca adalah buku-buku yang mestinya baru dipahami murid SMA? Itulah, ketika mereka tampil dalam seminar “Perlindungan Hak-Hak Anak” – di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, 10 Desember lalu – jadi pusat perhatian. Kedua anak itu lancar menjawab pertanyaan hadirin, bahkan mengesankan seorang yang sudah biasa dengan diskusi. Kanti menolak seorang hadirin yang memintanya menceritakan salah satu dongeng Andersen – kisah-kisah yang umumnya disukai anak-anak di seluruh dunia. Cewek kecil ini malahan menawarkan untuk berkisah tentang komet saja. Di tengah kritik terhadap mutu sekolah, Aldy Anwar, anak bungsu seorang dokter, menawarkan alternatif yang lain: mendidik sendiri anak-anaknya. Dan ini tampaknya sudah direncanakannya, ketika ia menikah dengan Beryl C. Syamwil, 34, sarjana Seni Rupa ITB, pada 1978. Pada ulang tahun pertama Kanti, satu-satunya hadiah adalah sebuah “buku berkulit tebal dengan kertas yang tak mudah robek,” tutur Aldy. Tentu saja. Bagi Kanti waktu itu, yang bicara pun baru sepatah dua patah kata, mestinya buku itu sama saja dengan mainan yang lain yang tak ada “isi”-nya. Tapi inilah strategi pertama Aldy, untuk mengenalkan anaknya dengan dunia ilmu. Tahap kedua, si bapak mengenalkan nama huruf. Dalam waktu tiga bulan, Kanti sudah bisa mengenali dan mengucapkan seluruh abjad. Sejak itulah, sejak mengenal semua huruf, minat baca anak-anaknya dibinanya. “Praktis, kedua anak saya sudah lancar membaca sebelum umur tiga tahun,” kata Aldy, yang masuk Jurusan Fisika Nuklir ITB pada 1956. Lalu, apa yang dibaca Kanti dan Ipu ? Jauh berbeda dengan sekolah formal, di rumah Aldy tak ada keharusan untuk membaca buku tertentu. “Yang saya bina hasrat, keterampilan, kegemaran, dan keteraturan belajar mereka,” kata bapak yang urung menyandang gelar sarjana karena begitu saja meninggalkan skripsinya itu. Bagi orang yang memilih bekerja secara freelance ini, pilihan materi pelajaran menjadi tidak penting dibandingkan dengan hasrat belajar itu sendiri. Tapi tentu saja ia, yang menjadi peneliti tenaga radiasi matahari di ITB pada 1961-1980, tidak ngawur. Aldy punya klasifikasi dalam membimbing belajar Kanti dan Ipu. Misalnya, ada pelajaran wajib, antara lain bahasa Indonesia, Inggris, daerah, mengarang, agama Islam, dan matematika. Lalu ada yang pilihan: membaca sastra, pengetahuan lingkungan, dan sejarah. Jenis ketiga lebih mirip permainan yang memerlukan daya kreasi, misalnya mencari kata-kata yang buntutnya “pung”. Atau bermain sandiwara, melukis, membaca cerita. Jadi lebih kurang Aldy pun menerapkan suatu sistem. Adapun soal waktu belajar, tentu saja tak seketat jam sekolah. Bahkan rasanya Aldy setuju dengan iklan Coca-Cola yang terkenal itu: di mana saja, kapan saja. Maka, jangan kaget, bila dalam sebuah seminar tentang pemanfaatan tenaga matahari, umpamanya, Aldy hadir membawa kedua anaknya. Anak-anak itu diberinya buku, kertas, dan bolpoin, dibiarkannya membaca, menulis, atau menggambar. Pokoknya, terserah maunya apa anak-anak itu, termasuk mendengarkan seminar, bila berminat. Inilah rahasianya mengapa dalam seminar di Jakarta itu, Kanti dan Ipu tampaknya tak canggung sedikit pun. Juga, sering kali bapak dan kedua anak ini asyik di toko buku, berjam-jam membaca tanpa merasa terganggu dengan pengunJung toko yang lain. Bagi Aldy yang tak terikat kerja rutin apa pun ini – “Saya sekeluarga cukup dengan Rp 100.000 per bulan.” katanya – banyak sekali sarana di masyarakat yang bisa digunakan untuk memperkenalkan dasar ilmu pengetahuan kepada anak. Ia memang bukan sekadar memindahkan sekolah ke rumah. Tapi jangan salah terka Aldy sama sekali tidak apriori anti sekolah. Ia memang punya kritik terhadap sekolah, yang di mata Aldy adalah tempat “segala sesuatunya diperhatikan secara sentral.” Beryl, ibu Kanti dan Ipu, pernah datang ke Proyek Perintis Sekolah Pembangunan IKIP Bandung, kalau-kalau anaknya bisa mendapatkan prioritas. “Ternyata, tidak bisa, karena laporan perkembangan anak lewat rapor harus teratur,” tutur desainer interior itu. Padahal, sekolah itu, yang menggunakan modul, terhitung maju. Sikap Aldy terhadap pendidikan mengingatkan orang kepada H. Agus Salim almarhum, yang juga tak menyekolahkan anak-anaknya. Memang, yang terutama ditentang Agus Salim bukan metode sekolah, tapi karena sistem Belandanya. Namun, metode awal yang diterapkan kedua orang berlainan zaman ini boleh dibilang mirip. Yakni belajar mengenal huruf, kemudian memupuk minat baca. Anak-anak Agus Salim diajar dulu membaca, kemudian kepada mereka diberikan buku-buku – kata Violet Hanafiah, anak ketiganya, beberapa waktu lalu. Yang tampaknya perlu diperhatikan yakni, sekolah di rumah tak harus berarti mengasingkan anak-anak dari pergaulan. Agus Salim tak hanya mengurung anaknya di rumah mereka dimasukkan juga ke kepanduan. Di kepanduan itulah anak-anak itu tahu bahwa pengetahuan mereka dibandingkan dengan anak sekolahan tak berbeda – justru mereka menjadi tempat bertanya. Dalam hal itu, belum jelas lingkungan yang akan digunakan Aldy buat mengetes pengetahuan anak-anaknya. Memang, Kanti dan Ipu bukannya sama sekali terasing dari kompetisi dengan anak-anak sebaya mereka. Pada usia empat tahun, Kanti telah memenangkan lomba membaca sajak di RW-nya. “la membaca sajak Chairil Anwar dengan bagus,” tutur ibunya. Dan tak jarang anak-anak itu juga mendapat nomor dalam lomba melukis – maklum ibunya ‘kan sarjana seni rupa. Tapi bagi Menteri P & K Fuad Hassan yang tampaknya agak tak setuju dengan hanya pendidikan di rumah ini – anak-anak itu mestinya kurang menerima yang disebutnya sebagai “proses sosialisasi”. Yaitu “anak bisa menerima watak temannya yang berbeda-beda, nakal, bandel dan ngotot, belajar menerima dan memberi, antara lain”. Untunglah, menurut para tetangga di Sukaluyu itu, meski kedua anak Aldy jarang bergaul, mereka tidak susah bercanda dengan anak-anak sebaya bila ada kesempatan. Malahan sering ditanya ini-itu oleh anak-anak tetangga, dan tak jarang pula anak-anak tetangga itu meminjam buku dari Kanti dan Ipu. AGAKNYA memang diperlukan pilihan lain daripada sekolah yang kini ada, yang memang hanya semetode itu. Bukan cuma Aldy, tapi juga Said Kelana, bapak para pemain band The Big Kids, lebih suka tak mengirimkan anaknya ke sekolah. Said juga melihat sekolah tak memberikan pilihan yang baik. “Dengan waktu belajar hanya empat jam sementara ada sekian mata pelajaran harus dipelajarkan, tentu sulit dipahami anak-anak,” kata Said suatu ketika. Maka ia pun mengundang guru ke rumah, tapi sistem mengajarnya Saidlah yang menentukan. Yakni, anak-anaknya diharuskan belajar satu bidang tertentu sampai menguasai dasarnya, sebelum pindah ke bidang yang lain. Misalnya, dalam satu bulan terus-menerus anak-anak dibimbing guru matematika. Baru setelah itu, ganti pelajaran bahasa Inggris, juga dalam waktu yang cukup. Dibandingkan dengan Said, Aldy memang sudah jauh melangkah. Bahkan ia sudah merencanakan pada usia 15 anak-anaknya sudah harus punya pilihan sendiri, sudah harus berdiri sendiri. Inilah memang, sebuah eksperimen besar yang mudah-mudahan tak minta korban. Sebuah upaya “mengubah iklim, memberikan alternatif yang lain dari yang sudah ada,” kata Aldy. Hasilnya memang masih harus ditunggu. Untuk sementara, lihat saja bagaimana Kanti berekspresi, ketika ada tamu di rumahnya yang merokok. Ia ambil kertas, lalu menulis dalam huruf balok: “Dilarang merokok di ruangan ini”. Bambang Bujono Laporan Indrayati (Jakarta)

June 16, 2007

Bedakah Jerman dan Indonesia…

Filed under: Eropa — estananto @ 10:34 pm

… dalam hal pembangunan rumah ibadah?

Jelas beda. Di Jerman, hukum berjalan sehingga tidak perlu ada amuk massa atau preman yang memaksa alat negara. Tetapi pikiran mayoritas-minoritas, pikiran bahwa kaum mayoritas merasa “terancam” oleh agresivitas kaum minoritas, bukan monopoli orang Indonesia.

Baru-baru ini di kota Köln (Cologne) ada sebuah demonstrasi. Perhatikan logo yang dibawa. Foto ini diambil dari majalah Spiegel online.

Moral cerita? Baik di Jerman maupun di Indonesia, iklim beragama masih sangat sumpek dan dipenuhi prasangka. Kalau di Jerman minoritasnya umat Islam, kalau di Indonesia minoritasnya umat Kristiani, tapi stereotip yang diderita keduanya dalam hal rumah ibadah hampir sama.

Bilakah Jerman dan Indonesia bertukar pikiran tentang hal ini?

February 4, 2007

Budaya dan Etika Kerja

Filed under: Indonesia — estananto @ 9:57 pm

Masalah budaya dan etika kerja telah menjadi bahan diskusi menarik selama bertahun-tahun. Dulu ketika Weber mengetengahkan “Etika Protestan”, sejak itulah para ahli memperdebatkan hubungan antara
budaya/kultur dengan kemajuan ekonomi.
Ada beberapa aspek yang menarik dari diskursus ini, yaitu seberapa jauh sebuah budaya mempengaruhi:

1) kerja keras 2) sikap terhadap waktu 3) kegiatan menabung 4) inovasi dan 5) kejujuran (Jones, 1997).

Tentu saja, kesemuanya mempengaruhi bagaimana seseorang memandang fungsi jaringan atau organisasi. Sebagai contoh jika kerja keras adalah satu nilai penting dalam suatu kultur, maka jaringan yang berhasil adalah
jaringan yang mampu menempatkan nilai ini dalam interaksi antar anggotanya.
Dalam kasus Asia dan Eropa, atau Asia dan Barat secara umum, perlu dilihat bahwa budaya Asia Timur pada khususnya sangat menekankan senioritas dan harmoni, sementara itu budaya Barat sangat menekankan
individu dan personal achievment. Dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi juga memiliki keperluan spesifik. Kultur Asia Timur memerlukan pemerintah yang kuat dan campur tangan birokrasi yang lebih banyak, sementara kultur Barat memerlukan jaminan kebebasan dari negara dan sistem sosial yang kuat untuk mengimbangi individualisme.
Indonesia terus terang kini ada di simpang jalan. Dia sudah tidak memiliki kultur Asia Timur murni karena dengan adanya demokrasi (liberal) pasca rezim Soeharto, nilai senioritas dan harmoni telah
ditantang. Tetapi di sisi lain, Indonesia juga bukan termasuk dalam wilayah kultur Barat karena tidak memiliki tradisi “konseptualisasi” untuk merumuskan visi dan misi (karena terbiasa dalam harmoni). Dalam
kondisi gamang seperti ini, pemerintah (eksekutif dan legislatif) maupun pihak-pihak berpengaruh harus mewujudkan budaya Indonesia yang progresif.
Diskursus tentang budaya Indonesia yang baru telah terjadi sejak tahun 1920-an, termasuk karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana yang pro-Barat dan di sisi lain Sanusi Pane ataupun Achdijat Kartamihardja yang lebih
konservatif. Polemik yang terjadi kini (seharusnya) mencapai titik puncaknya, karena menyangkut mati-hidupnya sebuah bangsa, atau lebih tepatnya hidup-matinya sebuah ide yaitu “Indonesia”.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, harus ada yang menghela dialog kultur ini agar membawa kemaslahatan bagi semua. Seandainya yang dituju adalah agar “jaringan bisnis yang terpercaya, terandalkan, dan
kreatif dapat terwujud”
maka semua elemen yang menunjang ini harus disuburkan.

January 26, 2007

Harga Obat Indonesia Mahal

Filed under: Indonesia — estananto @ 8:35 pm

ObatBahkan, menurut link ini, harga obat di Indonesia bisa mencapai 12 kali harga internasional. Alasannya senada: komponen impornya masih banyak, dan untuk itu harga yang harus dibayar pasien (baca: konsumen) juga lebih besar.

Omset industri obat (modern) adalah Rp. 72 trilyun (2004), sebuah jumlah yang tidak sedikit. Kalau dikonversi ke dalam EUR adalah 7,2 miliar EUR. Padahal di Jerman omset industri obat hanya 3 kalinya, yaitu 23,7 miliar EUR, dengan catatan GDP per kapita Jerman adalah 30 kali lipat Indonesia. Kita membiarkan negeri kita membayar sedemikian besar, padahal industri jamu kita yang bahan bakunya hampir seluruhnya di dalam negeri, demikian juga seluruh proses litbang dan produksinya di dalam negeri, beromset hanya Rp. 2,7 trilyun (2004). Kita dianugerahi keanekaragaman hayati yang kaya, modal utama obat tradisional, tapi tidak tahu bagaimana cara mensyukurinya, Kita tidak punya standardisasi obat tradisional, dokter-dokter kita dididik untuk memberi resep dengan obat modern. Herankah jika harga obat sangat mahal di Indonesia?

December 17, 2006

Munich dan Uni Eropa

Filed under: Eropa — estananto @ 5:52 pm

Dalam sebuah koran lokal Munich, Samstag Blatt, menulis artikel menarik di halaman depan edisi 16 Desember 2006. Artikel itu membahas tentang tema pilkada Munich tahun ini. Kandidat dari partai konservatif Kristen Sosialis (CSU) adalah Josef Schmidt yang mengkritisi walikota Munich yang terus menerus terpilih sejak tahun 1993, Christian Ude, sebagai “terlalu aktif di tingkat nasional sehingga melupakan masalah-masalah kota Munich”. Sedangkan Christian Ude sendiri mengangkat tema peran aktif kota-kota Jerman di tingkat Uni Eropa. Ude sendiri adalah ketua “Majelis Kota-kota Jerman” di mana 51 juta orang Jerman yang tinggal di 4700 kota terwakili di dalamnya. Yang menarik, 60% kebijakan yang diambil di tingkat Uni Eropa (bukan tingkat nasional Jerman!) berpengaruh langsung terhadap kebijakan kota di tingkat bawah.

Menarik bukan? Bagaimana dengan implementasi kebijakan otonomi daerah di Indonesia serta kebijakan yang diambil di tingkat ASEAN?

Next Page »

Blog at WordPress.com.